Kisah Nabi Ilyasa’

324 views

Kisah Nabi Ilyasa’

Kisah Nabi Ilyasa’. Ilyasa’; beliau adalah seorang Nabi Allah yang diutus untuk Bani Israil di Palestina. Diperkirakan oleh para sejarawan bahwa beliau tinggal di sekitar aliran sungai Jordania, dan hidup sekitar tahun 885 sampai 795 Sebelum Masehi.

Kenabian Ilyasa’ bukan hanya diakui oleh kalangan Islam, sebab orang Yahudi dan Nasrani juga mengakui kenabian Ilyasa’ yang terkenal dengan sifat kebaikan hatinya dalam membantu orang lain.

Ilyasa’ sendiri merupakan anak angkat dari Nabi Ilyas [sebenarnya Ilyasa’ adalah anak dari Akhtub bin ‘Ajuz]. Kala itu, disaat Nabi Ilyasa’ masih kecil; dia berada di rumahnya sedang sakit sehingga Ilyasa’ tidak bisa kemana-mana. Namun, disaat itu Ilyasa’ melihat seseorang yang berlari kencang dengan nafas yang mulai terengah-engah.

Ternyata orang itu adalah Nabi Ilyas yang sedang dikejar-kejar oleh kaumnya. Nabi Ilyas berupaya mencari tempat bersembunyi untuk menghindari amukan massa. Maka, segeralah Ilyasa’ yang masih belia itu menolong Ilyas agar segera masuk ke dalam rumahnya biar aman.

Dan, masuklah Nabi Ilyas ke rumah Ilyasa’. Sehingga orang-orang yang mengejarnya tadi tidak lagi menemukan ke mana Ilyas lari. Maka atas izin Allah, lewat perantara bantuan Ilyasa’, bubarlah orang-orang tadi, dan selamatlah Nabi Ilyas dari kejaran umatnya.

Karena anak kecil tadi [yakni Ilyasa’] telah menolongnya dan Nabi Ilyas tahu bahwa anak itu dalam keadaan sakit. Maka, sebagai ungkapan terimaksihnya yang mendalam, akhirnya Nabi Ilyas dengan mukjizat yang dimiliki; dia meletakkan tangannya di dada Ilyasa’ dan seketika itu pula Ilyasa’ sembuh total dari penyakitnya.

Bukan hanya itu, Nabi Ilyas mengangkat Ilyasa’ menjadi anak angkatnya. Dan sejak itulah Ilyasa’ kecil tinggal bersama Nabi Ilyasa’ dan selalu mengiringi kemana Nabi Ilyas pergi, serta dia selalu gigih ikut berjuang dalam menegakkan ajaran yang dibawa Nabi Ilyas walau dia sendiri masih terbilang masih sangat muda.

Nama Ilyasa’ sendiri dalam Al-Quran disebutkan sebanyak dua kali, yakni dalam Surah Al-An’am ayat 86, dan dalam Surah Shaad ayat 48.

“Dan Ismail, Ilyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)”. [Al-An’am: 86]

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” [Shaad: 48]

Kedua ayat diatas menunjukkan bahwa memang Nabi Ilyasa’ adalah seseorang Nabi yang memang pantas diteladani atas kebaikan yang dia contohkan. Oleh karenanya, Allah elebihkan derajat Nabi Ilyasa’ di atas kaumnya.

Dakwah Ilyasa’

Ternyata Ilyasa’ tertarik untuk ikut berdakwah bersama Nabi Ilyas [bapak angkatnya]. Bahkan setelah bapak angkatnya itu wafat, perjuangan dakwahnya tetap dilakoninya untuk menebar kebaikan dan kebenaran. Beliau berdakwah kepada kaum Bani Israil dan orang-orang Syam [lebih tepatnya kaum Ba’i].

Kaum Israil sangat mudah untuk berbuat kemurtadan. Padahal baru saja Nabi Ilyas wafat, ternyata kaumnya sudah banyak yang menyipang dari ajaran Nabi Ilyas. Oleh karenanya, Nabi Ilyasa’ berjuang gigih untuk mengembalikan kaumnya kepada jalan yang benar sesuai dengan petunjuk Allah.

Pernah kala itu Raja Israil menantang Ilyasa’ untuk menujukkan kemukjizatannya jika memang betul bahwa dia adalah utusan Allah. Dan dengan izin Allah, Nabi Ilyasa’ menunjukkan mukjizatnya yakni menyembuhkan orang yang sakit secara langsung dan menghidupkan orang yang sudah mati.

Namun, apa yang dilihat oleh mata kepala Raja Israil terhadap kemukjizatan Ilyasa’ dianggapnya sebagai sihir. Raja Israil menuduh bahwa Ilyasa’ adalah seorang dukun sihir yang membahayakan. Oleh karenanya, Ilyasa’ diusir dari istana dan diminta untuk jangan tinggal di wilayah kekuasannya.

Akhirnya Nabi Ilyasa’ mendoakan kebaikan untuk Raja Israil agar si raja mendapat hikmah kehidupan dari Allah. Tak lama setelah pengusiran itu, dikabarkan bahwa kerajaan bangsa Israil ditaklukka oleh kerajaan Asy-Syiria sehingga membuat porak-poranda kerajaan Israil dan wilayah sekitarnya.

Dan dikisahkan pula, disaat Nabi Ilyasa’ menyerukan kaumnya agar kembali menyembah Allah [sebab kaumnya setelah sepeninggalan Nabi Ilyas telah kembali membangkang], ternyata apa yang dilakukan kaumnya kepada Nabi Ilyasa’.

Mereka malah terus membangkang dan tidak mau kembali kepada jalan yang benar. Mereka kembali menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Padahal kaumnya yang kebanyakan tinggal di lembah sungai Jordan itu sempat menjadi pengikutnya yang baik dan selalu menaati apa yang dia perintahkan.

Namun, setelah terlena dengan kenyamanan, maka kaumnya banyak yang berpaling, terutama setelah meninggalnya Nabi Ilyas. Sementara itu, Nabi Ilyasa’ dengan penuh kesabaran dan kegigihan dan metode dakwahnya yang mengedepankan kebaikan hati, tapi terus mengalami kecaman dan tekanan dari kaumnya sendiri.

Akhirnya Nabi Ilyasa’ mendoakan kebaikan kepada kaumnya yang membangkang tadi dengan kebaikan agar meeka mendapat hikmah kehidupan. Maka, tak lama dari itu, aliran sungai Jordan mengering, dan mereka ditimpa kekeringan yang sangat lama.

Akibat bencana kekeringan itu, maka kaumnya meminta agar Ilyasa’ untuk memohon kepada Allah agar diberi kemakmuran kembali, dan mereka berjanji akan kembali kepada jalan Allah.

Nabi Ilyasa’ dengan kemurahan hatinya menyetujui seruan itu. Beliau berdoa kepada Allah agar kemakmuran, keamanan, dan kesejahteraan dilimpahkan kepada kaum Israil sebagaimana yang mereka dapat sebelumnya. Maka, Allah mengabulkan permohonannya.

Kaum Israil kembali hidup makmur dan mereka sangat bahagia. Akan tetapi, setelah Nabi Ilyasa’ wafat, ternyata watak mereka kembali kambuh, kaum Israil mulai kembali meningalkan ajaran Nabi Ilyasa’, mereka kembali menyembah berhala, melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, dan bersenang-senang dengan gelimang duniawi.

Wallahu a’laam…

Hikmah Ketauladanan

Astaghfirullah hal adzim, kita banyak-banyak berdzikir mohon ampun kepada Allah atas dakwah yang barangkali banyak kesalahan. Ada hal yang menarik dari dakwah yang dilakukan oleh Nabi Ilyasa’, yakni beliau mengedepankan dakwah keteladanan dan kebaikan hatinya. Tidak pernah mendakan keburukan, sebaliknya beliau selalu mendoakan kebaikan kepada kaumnya. Sebab Allah lah yang Maha Mengerti bagaimana cara mengabulkan doa hamba-hambanya.

Membaca Kartun Muslimah dan membagikannya juga termasuk dakwah, sebab sahabat juga bisa menyebarkan kebaikan meskipun hanya sederhana melalui berbagai postingan.

 

Gambar Gravatar
Website Dakwah Muslimah Menerima Tulisan Dakwah Baik Fiksi maupun Non Fiksi  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *