Biografi Masyitoh: Sang Tukang Sisir di Kerajaan Fir’aun

28 views
kartun muslimah biografi masyitoh
iluvislam.com

KARTUN MUSLIMAH — Masyitoh, satu nama yang mungkin sudah tak asing di telinga kaum muslim. Namanya begitu terkenal dilangit bahkan di bumi. Kisahnya begitu klasik, karena terjadi ribuan tahun yang lalu. Tepatnya zaman mesir kuno dimana Fir’aun, sang raja bengis berkuasa.

Masyitoh, seorang muslimah yang tak kenal takut pada penguasa kafir. Imannya tak goyah meskipun menahan perihnya air mendidih. Kisahnya terungkap saat Nabi agung Muhammad SAW melakukan isro mi’roj.

Kisah Masyitoh ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-Nya (1/309), at-Thabrani dalam al-mu’jamul Kabir (11/450), dan al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Astar (1/37). Kisah ini didapat oleh Nabi Muhammad SAW saat melakukan Isro mi’roj dengan Malaikat Jibril.

Suatu ketika saat Rasullullah SAW melakukan perjalanan isro mi’roj, Nabi mencium aroma yang sangat harum. Semerbak wanginya itu membuat langkahnya terhenti. Penasaran, Nabi pun bertanya kepada Malaikat Jibril, “harum apakah itu wahai Jibril?”

Malaikat Jibril pun menjawab, “itu adalah wangi dari kuburan seorang wanita shalihah bernama Masyitoh. Wanita yang memegang teguh keimanan kepada Allah SWT”. Hal ini diriwayatkan dalam hadist Ibnu Abbas.

Biografi Masyitoh

Pertanyaannya, siapakah Masyitoh? Wanita shalihah yang disebut oleh Jibril? Ternyata, ia hidup pada zaman Mesir Kuno. Zaman dimana Fir’aun, si raja bengis nan kejam memimpin. Era dimana Fir’aun yang angkuh selalu menganggap dirinya sebagai Tuhan.

Di dalam kehidupan Mesir Kuno yang serba tertekan, ternyata ada beberapa orang yang diam-diam beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa As. Mereka mengikuti tuntunan kitab, yaitu kitab taurat yang dibawa Nabi Musa.

Orang-orang yang beriman tersebut adalah Siti Asiyah, istri Fir’aun, Masyitoh yang mengurus anak Fir’aun dan seorang lelaki yang bernama Hazaqil. Laki-laki tersebut adalah seorang pembuat peti, tempat Musa kecil ditaruh untuk kemudian dihanyutkan ke sungai.

Hazaqil sendiri adalah suami dari Masyitoh, ia di istana menjadi orang kepercayaan Fir’aun. Suatu ketika terjadilah perdebatan antara Fir’aun dan dirinya. Penyebabnya adalah Fir’aun menjatuhkan hukuman mati kepada seorang ahli sihir yang beriman kepada Nabi Musa, sedangkan Hazaqil sangan menentang keputusannya.

Sikap tersebut menimbulkan kecurigaan Fir’aun. Hazaqil dihukum mati oleh Fir’aun karena ia ternyata beriman kepada Tuhan Nabi Musa, Allah SWT.

Peristiwa itu membuat Masyitoh sedih. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT atas kejadian yang menipa suaminya.

Tukang Sisir Pemberani

Nama Masyitoh sendiri bukan lah nama sebenarnya. Masyitoh diambil dari istilah arab yang berarti “Tukang Sisir”. Ia bekerja sebagai tukang sisir di kerajaan Fir’aun.

Suatu hari, ia sedang menyisiri rambut anak perempuan Fir’aun seperti biasanya. Tiba-tiba sisir yang digunakanya terjatuh, dan ia pun spontan mengucap, “Bismillah (dengan menyebut nama Allah)”.

Anak perempuan Fir’aun terkejut, dan bertanya kepada Masyitoh, “Apakah engkau punya Tuhan selain ayahku?”

Tanpa keraguan apapun Masyitoh menjawab dengan mantap, “Tuhanku adalah Tuhanmu dan Tuhan Ayahmu juga Tuhan segala sesuatu ialah Allah.”

Anak perempuan Fir’aun tersebut sangat terkejut, saat itu pula ia menampar dan memukuli Masyitoh,  sambil berkata, “akan kuadukan hal ini pada ayahku”.

“Silakan”, jawab Masyitoh tanpa perasaan takut.

Fir’aun, yang saat itu mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan langsung murka dan memerintahkan agar Masyitoh ditangkap. Fir’aun dengan sombong bertanya, “ Apakah benar engkau menyembah Tuahan selain aku?”

Dengan tegas Masyitoh menjawab, “Ya memang benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu hanyalah Allah, dan hanya kepadanya aku menyembah”.

Sang penguasa Mesir Kuno ini sangat marah mendengar jawaban tersebut. Kemudian Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya untuk menyiksanya dengan mengikat kedua tangan dan kedua kakinya dihadapan warga Mesir Kuno. Hal ini sengaja Fir’aun lakukan agar mereka tahu jika melawan Fir’aun akan berakibat fatal.

Tak hanya sampai disitu penderitaan yang dialami Masyitoh. Ular-ular berbisa yang dilepaskan para algojo istana pun turut mengerumuni tubuhnya. Penyiksaan dan penderitaan itu berlangsung dalam waktu yang lama.

Ujian Sang Penggenggam Iman

Setelah mengalami berbagai penyiksaan dan penderitaan, Fir’aun pun datang melihat kembali keadaannya dan berkata, “Apakah engkau hendak kembali (murtad) dari keyakinanmu itu?” Masyitoh tetap teguh menjawab, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu ialah Allah”.

Mendengar keteguhan iman Masyitoh, Fir’aun tak kuat menahan amarah dan seketika ia mengambil keputusan untuk menyiksa dan membunuh anak-anak Masyitoh.

Ibu mana yang tak terguncang jika mendengar ancaman Fir’aun tersebut. Tentu saja Masyitoh sangat takut dan khawatir. Namun hal itu juga ternyata tetap tak membuat Masyitoh goyah.

Air mata Masyitoh mengalir deras tatkala ia harus melihat anak sulungnya yang kesakitan menahan panasnya air mendidih di dalam tungku. Melihat hal itu, Fir’aun pun membujuk kembali Masyitoh agar berpikir ulang. Tapi pendiriannya malah semakin mantap untuk tetap teguh menjaga imannya sampai mati.

Dengan sigap Fir’aun meminta prajurit untuk memasukan anak Masyitoh yang kedua kedalam tungku. Belum kering air mata Masyitoh, kini hatinya remuk redam tersayat-sayat melihat kembali anaknya meregang nyawa dalam tungku.

Hati Masyitoh menjadi ragu. Dalam kebimbangan memikirkan tawaran Fir’aun sekali lagi, ia merasa iba pada bayi mungil dalam gendongannya. Anak itu masih menyusu, Masyitoh pun memikirkan ucapan Fir’aun sambil menangis.

Atas izin Allah, tiba-tiba anak bungsunya itu bisa berbicara. “Duhai Ibuku, janganlah kau ragu, masuklah! Sesungguhnya siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.”

Kaget bercampur gembira mendengan bayinya yang bisa berbicara, tanpa ragu ia memutuskan untuk mati di dalam tungku itu juga. Namun sebelum itu ia meminta satu permintaan terakhir pada Fir’aun.

Permintaannya sangat mudah yakni ia meminta untuk mengumpulkan tulangnya beserta tulang anak-anaknya dalam satu kain kafan. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Fir’aun.

Tanpa ragu Masyitoh mantap masuk kedalam tungku panas tersebut sambil menggendong bayinya. Akhirnya, ia beserta anak-anaknya mati syahid dengan mengenggam iman yang indah.

Memaknai Pelajaran Dari Kisah Masyitoh

Masyitoh, wanita mulia penggenggam iman ini telah wafat. Namun, kisahnya tak lekang ditelan zaman. Bahkan setelah ribuan tahun sekalipun. Kisahnya begitu berharga untuk dipetik hikmahnya, hingga kini kisahnya banyak menginspirasi dan selalu terngiang di telinga orang-orang yang rindu menggenggam iman demi bertemu dengan Rabb-nya

Masyitoh telah memberi banyak inspirasi sekaligus motivasi untuk kita dalam mempertahankan iman. Ada sejumlah pelajaran yang dapat kita gali dari kisahnya, diantaranya adalah:

  • Sabar, kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan di dunia. Karena dunia hanyalah sementara, akhiratlah sumber kebahagiaan abadi yang sesungguhnya.
  • Teguh dalam pendirian yang baik. Itulah yang dilakukan Masyitoh beserta anak-anaknya. Rasullullah bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing dari keduanya mendapatkan kebaikan.” (H.R Muslim)
  • Pentingnya menggenggam iman. Masyitoh sang penggenggam iman telah mencontohkan kepada kita bahwa sesungguhnya iman adalah senjata yang sangat ampuh untuk menjadikan kita dekat dengan Allah SWT. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(Q.S An-Nahl:16:128)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *