Zinnirah; Antara Mata Hati dengan Mata Dunia

163 views

Sebagaimana seorang hamba tawanan Umar, yang kala itu Umar belum mengenal Islam. Zinnirah melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Ia beribadah dikala orang sedang tidur atau tidak berada di rumah. Ia takut diketahui tuannya, Umar yang terkenal dengan sifat tegas dan berani. Zinnirah sholat, berzikir, dan membaca al-Qur’an dengan penuh syahdu serta penghayatan. Sekecil apapun rahasia pasti tercium juga, begitulah yang dialami Zinnirah.

Umar melihat Zinnirah sedang membaca Al-Qur’an. Tatkala itu segala penyiksaan bermula. Mampukah ia menghalau segala rintangan yang dihadapi saat itu? Sebagai manusia zaman sekarang, masih adakah wanita setangguh, setabah, dan sesabar Zinnirah? Ketika siksaan mulai mendera bertubi-tubi akankah ia mampu bertahan demi mempertaruhkan akidah?

Menjawab pertanyaan di atas, sungguh sejarah telah mencatat. Setelah diketahui oleh tuannya. Umar sangat marah besar. Segera ia disiksa dan mendera Zinnirah dengan harapan agar ia kembali kepada agama asalnya dan meninggalkan Islam. Pelbagai siksaan dikenakan terhadapnya; pukulan, hentakan, sepak terjang, dijemur di tengah-tengah terik matahari menjadi rutinitas yang ia jalani.

Tak sedikitpun ada keluh kesah atau bisikan hatinya agar keluar dari agama yang dibawa Muhammad Saw. Ia bahkan semakin yakin bahwa Allah Maha Segalanya. Dalam zikirnya terus terucap “Allah, Allah, Allah, Allahu Akbar, Allah lah yang Maha Besar.” Hatinya berbisik, “Ini Untuk-Mu wahai Tuhan, aku membeli kesusahan ini untuk mendapat kesenangan di akhirat.” Perkataan inilah yang menjadi penawar tatkala penyiksaan semakin kejam.

Puncak Penyiksaan

            Setelah beragam siksaan yang dialami Zinnirah, tidak mengurangi imannya sedikitpun. Umar semakin bengis. Diseretnya ia ke pinggir kota dan mengikatnya di tiang. Dia menyuruh seseorang mengorek mata Zinnirah sehingga buta (dalam sumber lain dicungkil dengan besi panas).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *