Zinnirah; Antara Mata Hati dengan Mata Dunia

729 views

Zinnirah

KARTUN MUSLIMAH — Sahabat muslimah maukah menjadi srikandi Islam masa kini? Penebar manfaat dan penyejuk bagi keluarga? Juga sebagai pelipur lara dari segala pahitnya kehidupan? Sungguh,  semua wanita pasti menginginkan untuk menjadi bagian dari sejarah. Apalagi mampu berkiprah dengan mendidik anak sebagai pejuang Islam. Berikut terdapat kisah muslimah yang namanya tidak banyak dikenal sejarah, namun ia terkenal di Syurga. Namanya menjadi impian Firdausi. Ia jadi pingitan hiasan duniawi. Yuk simak kisahnya!

Ialah Zinnirah Al-Rumiyah, seorang wanita berketurunan bangsa Romawi. Ia hanyalah gadis biasa yang bukan keturunan bangsawan. Kehidupan keluarganya sangat miskin dan dalam keadaan serba kekurangan. Ketika terjadi sebuah peperangan di Romawi, Zinnirah terpisah dari keluarganya lalu ia menjadi tawanan perang.

Semenjak itu ia menjadi budak berpindah dari satu tuan ke tuan lainnya. Selama menjadi hamba sahaya tak jarang ia mendapatkan perlakuan kasar bahkan diperlakukan seperti binatang oleh tuannya. Kemudian sampailah ia di kota Makkah, Umar bin Khattab segera membelinya dengan harga yang murah untuk dijadikan hamba sahaya.

Kisah Zinnirah Bermula

Di sinilah awal kisahnya dimulai, Zinnirah mengenal Islam dari seorang hamba sahaya yang sama sepertinya. Ia adalah bagian dari muslimah yang pertama mengenal Islam, ketika dakwah Rasulullah dilakukan secara diam-diam. Betapa teguh hatinya saat Islam merasuk dalam jiwanya. Ia merasakan indahnya ibadah dan kenikmatan penghambaan kepada Tuhan.

Sebagaimana seorang hamba tawanan Umar, yang kala itu Umar belum mengenal Islam. Zinnirah melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi. Ia beribadah dikala orang sedang tidur atau tidak berada di rumah. Ia takut diketahui tuannya, Umar yang terkenal dengan sifat tegas dan berani. Zinnirah sholat, berzikir, dan membaca al-Qur’an dengan penuh syahdu serta penghayatan. Sekecil apapun rahasia pasti tercium juga, begitulah yang dialami Zinnirah.

Umar melihat Zinnirah sedang membaca Al-Qur’an. Tatkala itu segala penyiksaan bermula. Mampukah ia menghalau segala rintangan yang dihadapi saat itu? Sebagai manusia zaman sekarang, masih adakah wanita setangguh, setabah, dan sesabar Zinnirah? Ketika siksaan mulai mendera bertubi-tubi akankah ia mampu bertahan demi mempertaruhkan akidah?

Menjawab pertanyaan di atas, sungguh sejarah telah mencatat. Setelah diketahui oleh tuannya. Umar sangat marah besar. Segera ia disiksa dan mendera Zinnirah dengan harapan agar ia kembali kepada agama asalnya dan meninggalkan Islam. Pelbagai siksaan dikenakan terhadapnya; pukulan, hentakan, sepak terjang, dijemur di tengah-tengah terik matahari menjadi rutinitas yang ia jalani.

Tak sedikitpun ada keluh kesah atau bisikan hatinya agar keluar dari agama yang dibawa Muhammad Saw. Ia bahkan semakin yakin bahwa Allah Maha Segalanya. Dalam zikirnya terus terucap “Allah, Allah, Allah, Allahu Akbar, Allah lah yang Maha Besar.” Hatinya berbisik, “Ini Untuk-Mu wahai Tuhan, aku membeli kesusahan ini untuk mendapat kesenangan di akhirat.” Perkataan inilah yang menjadi penawar tatkala penyiksaan semakin kejam.

Puncak Penyiksaan

            Setelah beragam siksaan yang dialami Zinnirah, tidak mengurangi imannya sedikitpun. Umar semakin bengis. Diseretnya ia ke pinggir kota dan mengikatnya di tiang. Dia menyuruh seseorang mengorek mata Zinnirah sehingga buta (dalam sumber lain dicungkil dengan besi panas).

Betapa besar pengorbanan Zinnirah demi agama Islam. Ia rela mengorbankan matanya dan tetap teguh pendirian dalam keimanan. Masih adakah wanita sepertinya saat ini? Rela berkorban sepenuh jiwa dan raganya demi agama Islam? Semoga sahabat muslimah bisa menjadikah kisah Zinnirah sebagai hikayat yang patut menjadi teladan.

Dibalik kekejaman yang ia dapatkan, meski mata dzahir telah mati, mata batin masih mampu melihat sembari berdoa, “Tuhan, meski aku dibunuh mati, aku lebih rela dari pada harus menjual agamaMu ini Tuhan. Semakin aku diuji, semakin terasa kehebatan dan keagunganMu. Panah cintaMu itulah yang menguatkan diri ini untuk menerima segala siksaan kaum tuanku, Umar. Hanya satu permintaanku, berilah petunjuk kepada orang yang menyiksaku ini.”

            Sungguh doa orang teraniaya maqbul. Setelah kejadian itu, Umar memeluk Islam setelah mendapat hidayah Allah Swt dari adiknya, Fatimah. Umar bahkan menjadi salah satu Sahabat Nabi yang tergolong Khulafa ar-Rasyidin. Sifat bengisnya bertukar menjadi lembut, garang menjadi pemaaf, bakhil menjadi pemurah, gila dunia menjadi gila akhirat. Ia kemudian dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat pemberani dan tidak segan-segan menghunus pedang untuk menghadapi musuh.

Kisah Zinnirah memperlihatkan kita, bahwa buta mata bukan berarti penghalang untuk melihat jagat raya. Mata hatinya tidak pernah buta untuk menerima cahaya kebenaran Islam. Pandangan hati mampu menembus pandangan dzahir. Hal ini terbukti melalui kepercayaan akan kuasa Tuhan, betapa tingkatan iman yang teramat tinggi dimiliki oleh seorang hamba seperti Zinnirah. Ia bahkan takut melakukan maksiat, karena Allah Maha Melihat. Ketika melihat keadaan Zinnirah yang buta, orang-orang Quraisy mempermainkkannya dengan mengatakan, itulah laknat dari tuhan Latta dan Uzza.

Mendengar cibiran mereka, Zinnirah bersikeras bahwa ini bukan akibat dari tuhan mereka. Melainkan atas kehendak dan kuasa Allah sehingga di izinkannya terjadi melalui perbuatan Umar. Oleh sebab itu, Allah pula lah yang berkuasa mengembalikan penglihatannya jika Ia berkehendak.

Meski didera dengan beragam ujian, keyakinannya kepada Tuhan tidak pernah berubah. Allah memberi karamah kepadanya. Matanya yang buta itu dapat melihat kembali. Ia dapat kembali menikmati keindahan ciptaan Allah Swt, dengan penuh kesyukuran dan keimanan yang semakin tinggi.

Hati Zinnirah senantiasa terlindungi oleh balutan iman dan akhlak. Kemerdekaan jiwa merasa aman dari kongkongan hawa nafsu. Kemerdekaan jiwa inilah yang diperoleh oleh zinnirah, wanita yang tidak dikenal di dunia, namun terkenal di langit.

Sahabat muslimah, marilah kita bercermin kepada wanita-wanita pejuang yang memperjuangkan Islam sebagaimana Zinnirah lakukan. Semoga kita mampu meneladani kehidupannya dalam konteks masa kini. Sebagaimana cerita beberapa waktu lalu, seorang judoka Miftahul Jannah yang mempertahankan jilbabnya meski harus terseleksi menjadi champion. Semoga kita kelak mampu menyusul Zinnirah masa kini. Aamiin…

Oh Zinnirah

Kau umpama bintang di malam hari

Menerangi alam malam dan diteman purnama

Cinta murni yang kau dambakan untuk Ilahi

Tiada sepadan dan tiada bertepi

 

Oh Zinnirah

Kau Srikandi sunyi sendiri

Di medan ngeri dan bersuara sepenuh berani

Kasih suci yang kau hulurkan untuk Ilahi

Menagih korban kasih abadi.

_Penggalan lyric nasyid UNIC, Malaysia_

              

Gambar Gravatar
Website Dakwah Muslimah Menerima Tulisan Dakwah Baik Fiksi maupun Non Fiksi  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *