Zinnirah; Antara Mata Hati dengan Mata Dunia

162 views

Betapa besar pengorbanan Zinnirah demi agama Islam. Ia rela mengorbankan matanya dan tetap teguh pendirian dalam keimanan. Masih adakah wanita sepertinya saat ini? Rela berkorban sepenuh jiwa dan raganya demi agama Islam? Semoga sahabat muslimah bisa menjadikah kisah Zinnirah sebagai hikayat yang patut menjadi teladan.

Dibalik kekejaman yang ia dapatkan, meski mata dzahir telah mati, mata batin masih mampu melihat sembari berdoa, “Tuhan, meski aku dibunuh mati, aku lebih rela dari pada harus menjual agamaMu ini Tuhan. Semakin aku diuji, semakin terasa kehebatan dan keagunganMu. Panah cintaMu itulah yang menguatkan diri ini untuk menerima segala siksaan kaum tuanku, Umar. Hanya satu permintaanku, berilah petunjuk kepada orang yang menyiksaku ini.”

            Sungguh doa orang teraniaya maqbul. Setelah kejadian itu, Umar memeluk Islam setelah mendapat hidayah Allah Swt dari adiknya, Fatimah. Umar bahkan menjadi salah satu Sahabat Nabi yang tergolong Khulafa ar-Rasyidin. Sifat bengisnya bertukar menjadi lembut, garang menjadi pemaaf, bakhil menjadi pemurah, gila dunia menjadi gila akhirat. Ia kemudian dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat pemberani dan tidak segan-segan menghunus pedang untuk menghadapi musuh.

Kisah Zinnirah memperlihatkan kita, bahwa buta mata bukan berarti penghalang untuk melihat jagat raya. Mata hatinya tidak pernah buta untuk menerima cahaya kebenaran Islam. Pandangan hati mampu menembus pandangan dzahir. Hal ini terbukti melalui kepercayaan akan kuasa Tuhan, betapa tingkatan iman yang teramat tinggi dimiliki oleh seorang hamba seperti Zinnirah. Ia bahkan takut melakukan maksiat, karena Allah Maha Melihat. Ketika melihat keadaan Zinnirah yang buta, orang-orang Quraisy mempermainkkannya dengan mengatakan, itulah laknat dari tuhan Latta dan Uzza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *