Kisah Sang Penandai

49 views
Kartun Muslimah Hijrah
http://kdhew.deviantart.com/
KARTUN MUSLIMAH – Alhamdulillah..
Sungguh hikmah yang luar biasa. Sepotong hikmah dari kisah hasil imajinasi dan perenungan novelis Tere liye berjudul “Kisah Sang Penandai”. Benar-benar kisah yang luar biasa, menyadarkanku, membuka mata, hati dan pikiranku tentang hidup, hakikat perjalanan hidup.
Seperti kisah dalam novel itu, Sang Penandai. Sang pembuat dongeng, sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Ia tau segalanya. Ia selalu memotivasi orang-orang terpilih untuk menjalani hidupnya agar sampai pada akhir cerita yang sempurna. Sesempurna skenario yang telah digariskan.
Sang Penandai tau apa akhir cerita orang-orang terpilih itu, tapi ia tak memberitahukannya. Ia hanya memberi petunjuk jalan agar orang-orang pilihan itu sampai ke tujuan, sampai pada akhir ceritanya dengan akhir yang sempurna.
Selain petunjuk dan motivasi itu, semuanya terserah dan tergantung pada pelaku kisah itu sendiri. Jika ia terus bertahan menjalani hidupnya mengikuti jalan yang telah digariskan, meski banyak godaan dan rintangan, maka ia akan sampai pada akhir kisahnya, kisah yang sempurna. Sesuai skenario Sang Pembuat Kisah. Yang pastinya indah dan menyejarah.
Tapi jika orang tersebut menyerah kalah atau berhenti di tengah jalan, maka hanya sampai disitulah kisahnya. Kisah yang tak sempurna. Tanpa hasil yang luar biasa, dan gagal menjadi pengukir sejarah sebagai orang menang dalam hidupnya.
Dan kelak, beratus-ratus tahun kemudian, kisah orang-orang pilihan itu akan menjadi dongeng dan cerita yang akan dikisahkan kepada anak keturunan dan generasi mereka. Yang menang dalam hidupnya akan menjadi inspirasi yang memotivasi. Dan yang kalah akan dijadikan pelajaran agar tak mengikuti kesalahan yang sama.
Begitulah sesungguhnya kehidupan manusia. Setiap orang sudah memiliki kisahnya sendiri. Sudah ditentukan kelahiran, jodoh, rezeki dan akhir hidupnya sejak manusia masih dalam kandungan. Setiap kita sudah membuat perjanjian dengan Sang Pemnbuat Kisah. Allah Yang Maha Agung.
Dan ketika kita dilahirkan ke dunia, kita harus siap berjuang menjalani hidup. Menapaki kisah hidup kita masing-masing dari awal sampai akhir. Sampai kematian itu sendiri yang menjemput kita.
Setiap kita punya jalan kisah masing-masing. Suka duka, halang rintang yang kita hadapi, keberuntungan dan kegagalan yang menghiasi hidup kita, tentunya berbeda antara kita dan orang lain. Karna setiap kita sudah digariskan kisahnya masing-masing.
Saat ada seseorang yang berkelebihan harta dimasa mudanya, sedangkan kita terhimpit kemiskinan, jangan pernah memvonis bahwa Tuhan tak adil. Karna memang itulah alur kisahnya.
Adapun alur hidup kita, yang saat ini masih kekurangan harta, mungkin Sang Pembuat Kisah sudah men-skenario-kan bahwa puncak kesuksesan ekonomi kita adalah saat usia kita 40 tahun nanti.
Namun sayangnya kita tak tau, hanya pembuat kisahlah yang tau semua cerita dan akhir kehidupan umat manusia.
Maka tugas kita sebagai aktor kehidupan hanyalah melakoni peran kita masing-masing. Melakukan apapun yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Setelah itu pasrahkan semuanya (alur ceritanya, tokoh-tokoh yang datang dan pergi, konflik-konfliknya, dan akhir ceritanya) kepada Sang Pembuat Kisah. Tawakallah.
Beruntungnya kita, karna kita tidak dilepaskan begitu saja menjalani skenario ini tanpa pedoman.
Untuk mengetahui apakah kita sudah pada jalan yang tepat untuk melakoni kisah masing-masing, Allah Sang Pembuat Kisah telah memberikan kita buku panduan atau pedoman.
Yaitu aturan yang berisi petunjuk, perintah dan larangan yang menuntun kita agar tetap berada dijalan yang benar. Jalan kisah kita masing-masing. Bahkan ketika kita mulai menyimpang dari jalan yang sudah digariskan, Ia beri peringan lewat buku panduan itu.
Sang Pembuat Kisah itu mengetahui akhir kisah dari setiap manusia di dunia ini. Maka saat ada yang mulai putus asa menjalani kisahnya yang dirasa terlalu berat, sulit, dan menyakitkan, Dia beri pengobat hati, penghibur dan kabar gembira lewat buku panduan itu.
Karna Dia Mahatahu ada kisah indah dan akhir yang bahagia setelah semua derita itu. Begitu juga jika ada yang berusaha membangkang, membelot dan melakukan kemungkaran, Ia berikan peringatan dan ancaman lewat buku pedoman itu.
Sekali lagi kita hanya diperintahkan mengikuti skenario itu dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Setelah itu, pasrahkan, tawakal. Jika kita sanggup menjalaninya, sampailah kita pada akhir kisah yang sempurna. Sesuai perjanjian kita pada-Nya dulu. Saat kita diciptakan.
Namun jika kita menyerah, atau kalah melawan godaan dan rintangan, bisa saja kisah kita berubah. Berubah menjadi kisah yang tak bermakna, tak menyejarah, kalah dan tak sempurna. Entah berakhir di neraka atau surga.
Maka dari itu, apapun kondisi kita saat ini.. Bahagia, sengsara, kaya, miskin, pintar, kurang pintar, sehat, sakit, memiliki pasangan atau belum.., lakukan apapun yang terbaik yang bisa kita lakukan hari ini. Ya, hari ini, saat ini, bukan nanti atau besok.
Karna kita tak pernah tau apakah kita masih bernyawa satu menit setelah ini. Karna kita tak pernah tau keberuntungan apa yang akan kita dapatkan setelah ini. Kita juga tak bisa menerawang, musibah apa yang sedang menunggu kita satu jam setelah ini. Tidak ada yang tau kelanjutan kisah hidup kita, kecuali Sang Pembuat Kisah. Allah SWT.
Oleh karena itu, belajarlah untuk selalu bersyukur, optimislah selalu menyonsong hari esok. Yang melarat siapa yang tau nasibnya esok jadi konglomerat. Yang sendiri dan merana mungkin esok sudah disiapkan keluarga yang bahagia.
Oleh sebab itu, belajarlah untuk selalu bersyukur dan berIstighfar. Yang sombong dengan kecantikan dan ketampanannya, sadarlah. Detik waktu yang tak mampu kita hentikan perlahan tapi pasti akan mengambil kecantikanmu, tua dan kriput tak mungkin terelakkan.
Yang angkuh dan kikir dengan hartanya yang melimpah, taubatlah. Si Qorunpun tak pernah tau kalau timbunan hartanya justru yang menimbunnya di dasar bumi. Oleh sebab itu, Belajarlah untuk selalu bersyukur dan memohon pertolongan pada Allah, Sang Pembuat Kisah.
Yang sudah merasa baik dan sholih, jangan angkuh dan bangga dengan kesholihanmu. Karna Alah Maha membolak balikan hati, hingga banyak kita temui “mantan orang sholeh”.
Yang sudah baik dan sholeh, jangan memandang rendah dan membenci yang masih tersesat. Tapi berilah petunjuk. Karna Umar bin Khattab pun dulunya tersesat. Namun kini ia adalah salah satu orang yang dijamin masuk surga oleh Allah. Subhanallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *