Khadijah: Cinta Pertama Rasul SAW

https://id.pinterest.com/

Khadijah: Cinta Pertama Rasul SAW – Khadijah RA. putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza, merupakan seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Mendapat julukan ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Beliau dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat sekitar 15 tahun sebelum tahun gajah.

Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia sehingga tidak mengherankan jika beliau menjadi seorang wanita yang cerdas, berpendirian teguh dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya jatuh hati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi dan dikaruniai dua orang anak, Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dipinang oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi namun setelah beberapa saat mereka akhirnya bercerai.

Semakin banyak para pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, serta mengurusi perniagaan. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya.

Beliau mendengar tentang Muhammad –saat itu belum diangkat menjadi nabi, yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah.

Allah menjadikan perdagangan  tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa puas atau usaha Muhammad Al-Amin, menambah ketakjuban terhadap kepribadian sosok pemuda tersebut. Khadijah menyadari bahwa Muhammad Al-Amin berbeda dari kebanyakan laki-laki di sekitarnya.

Akan tetapi beliau pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Kebingungan dan kegelisahan yang dialami oleh Khadijah akhirnya dapat dipecahkan dengan bantuan  Nafisah binti Munabbih. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya .

Atas ridha Allah, Nafisah membuka jalan untuk Khadijah dan Muhammad.
Berangkatlah Rasulullah SAW besama Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah, Amru bin Asad untuk melamar Khadijah. Khadijah dan Muhammad Al-Amin akhirnyapun menikah.

Seusai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada keluarga, handai taulan, dan orang-orang fakir. Diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang mendapat 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui suami tercinta.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.

Kemudian Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), beribadah kepada Allah di Gua Hira’ . Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa keberatan. Meski terkadang harus berpisah jauh, beliau senantiasa menjaga dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah.

Hingga pada suatu malam dibulan Ramadhan, ketika Muhammad al-Amin tengah  berkhalwat di gua Hira, datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah. Beliau sangat ketakutan, sekujur tubuhnya gemetar karena peristiwa yang baru saja dilaluinya. Sontak beliau berlari keluar dari gua menuju rumah menemui istrinya.

“Selimutilah aku ….selimutilah aku …” pinta Muhammad kepada sang istri sesampainya di rumah. Khadijah segera menyelimutinya dan berhasil meredakan kekhawatiran yang ada. kemudian Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa sang suami, beliau menjawab:”Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku”.

Mendengar jawaban tersebut sang istri lantas berusaha menghibur dan menenangkannya. Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan tersebut. Khadijah selanjutnya mengajak Rasulullah SAW untuk menemui pamannya yang banyak mengetahui isi Kitab Taurat dan Injil, Waraqah bin Naufal.

Khadijah menceritakan apa yang telah terjadi pada suaminya. Mendengar hal tersebut membuat Waraqah nampak gembira. Lantas ia menjelaskan bahwa kejadian yang sama  juga dialami oleh Nabi Musa, pertanda bahwa suaminya telah diangkat menjadi seorang Nabi bagi umat ini.

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali meyatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya semenjak peristiwa tersebut. Selain beriman, beliau juga senantiasa mendampingi, menolong, menguatkan, dan membantu Rasulullah SAW dalam berdakwah serta menghadapi berbagai gangguan yang akan menyertai tugas mulia tersebut.

Tidak cukup disitu, ujian besar tidak berhenti menerpa Khadijah. Mulai dari kepergian Abdullah dan al-Qasim menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, harus berpisah dengan putrinya Ruqayyah, yang harus hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan Islam dari gangguan orang-orang musyrik.

Selain itu Khadijah menghadapi sulitnya berdakwah yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, guna menghindari pertikaian dengan para kaum kafir Quraisy.  Hal tersebut tentu sangat mungkin terjadi karena Islam adalah agama Allah, Tuhan Yang Esa. Sementara keadaan saat itu kaum Quraisy tidak mengenal Tuhan yang Esa, begitu banyak berhala-berhala yang disembah oleh kaum kafir Quraisy dalam peribadatan sehari-hari.

Dakwah siriyyah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW berlangsung selama tiga tahun. Tepat setelah turun wahyu yang kedua, beliau mulai mendakwahkan risalah Islam secara terang-terangan.Tepat seperti yang diperkirakan, dakwah terang-terangan ini menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat Mekkah saat itu.

Sedikit sekali dari mereka yang percaya akan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW. Dan kebanyakan dari mereka adalah kalangan bawah. Sementara para pemuka Mekkah menentang keras risalah Rasulullah. Mereka mengupayakan berbagai cara untuk  dapat menghentikan dakwah Rasulullah dan sahabat.

Dari penyiksaan, pengusiran, pemboikotan, dan pembunuhan. Sungguh berat rintangan yang harus dihadapi Rasulullah SAW dan pengikutnya .Tidak banyak pengikut Rasulullah yang kemudian mundur, kembali menjadi kafir karena takut akan perlakuan tersebut.

islamic quotes
https://id.pinterest.com/

Namun Khadijah tidak pernah sedikitpun ragu akan kerasulan suaminya, ia hadir sebagai penenang hati dan pendorong semangat Rasulullah. Selain selalu memberikan dukungan moril, Khadijah juga rela memberikan seluruh harta kekayaannya untuk diinfakkan di jalan Allah SWT.

Ketika kaum musyrik Quraisy melakukan pemboikotan kepada bani Hasyim dan Bani Muthalib, Siti Khadijah rela meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan Rasulullah dan Sahabat di syi’ib (pemukiman) bani Muthalib. Pemboikotan berlangsung dari tahun ketujuh kenabian sampai tahun kesepuluh kenabian. Mereka tidak dijinkan melakukan jual-beli dan bermasyarakat dengan suku lain.

Khadijah RA turut menyaksikan dan merasakan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Tidak ada kata putus asa, sebab beliau melaksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta’ala :

“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan “. (Ali Imran:186).

Usia yang semakin senja, tubuh yang melemah, ditambah dengan pemboikotan kaum kafir Quraisy, tidak membuat keimanan Khadijah RA berkurang, namun malah sebaliknya. Menjelang usianya yang ke 65 tahun, atau tiga tahun sebelum hijrah Nabi SAW, Khadijah kembali kehadapan Rabbnya. Kematian teman hidup sejatinya membuat Rasulullah SAW bersedih. Kurun waktu ini disebut sebagai “tahun dukacita”.

Khadijah RA adalah seorang istri yang bijaksana, mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya, dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Maka dari itu sangat tepat apabila Rasulullah SAW menyebut istri pertamanya ini termasuk dalam satu dari empat muslimah terbaik sepanjang masa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *