Biografi Siti Khadijah : Isteri Pertama Penakluk Hati Rasullullah

Biografi Siti Khadijah : Isteri Pertama Penakluk Hati Rasullullah
Pixabay.com

KARTUN MUSLIMAH — Jika ada yang bertanya siapa wanita pertama yang mengisi relung hati Rasullullah, sudah pasti jawabannya ialah Khadijah. Wanita mulia keturunan agung yang ikhlas menemani Rasullullah dalam menegakkan Islam di muka bumi.

Khadijah, seorang istri yang mengorbankan seluruh harta kekayaan dan tenaganya hanya untuk perjuangan suami tercinta. Wanita pertama yang beriman kepada Allah SWT dan yang meyakini bahwa suaminya adalah utusan-Nya.

Pahit manis kehidupan dakwah, ia jalani dari titik terendah hingga tegaknya Islam di muka bumi bersama Rasullullah. Wajarlah jika Nabi Muhammad tidak akan pernah melupakan sosok pertama yang mengetuk pintu hatinya tersebut.

Biografi Siti Khadijah, Siapakah Ia?

Khadijah atau biasa kita panggil beliau Siti Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah.

Dalam pembahasan mengenai biografi Siti Khadijah ini, kita tak bisa lepas dari latar belakang keluarganya. Dilahirkan pada tahun 68 sebelum hijrah, dari keluarga yang sangat kaya raya, mulia, bahkan sangat terhormat. Oleh karena itu, tak heran jika Khadijah tumbuh menjadi wanita cerdas, berjiwa luhur dan terdidik.

Tepat tahun 575 Masehi, ibunda dari Khadijah meninngal dunia. Sepuluh tahun kemudian ayahandanya pun menyusul. Sebagai anak konglomerat, maka sepeninggal kedua orangtuanya, khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaan yang berlimpah.

Khadijah adalah sosok pebisnis ulung. Kekayaan yang berlimpah ruah tak pernah membuat Khadijah lengah. Ia sadar bahwa kekayaan akan membuat manusia lengah, bahkan lupa daratan, jika tidak dipergunakan dengan baik dan benar.

Meski diwarisi harta yang berlimpah namun tak menyurutkan semangat Khadijah untuk selalu bekerja keras. Ia tak pernah bermalas-malasan, justru sebaliknya Khadijah mempunyai tekad untuk terus mengembangkan bisnis orangtuanya. Karena itulah, ia pun mengambil alih bisnis keluarganya.

Kisah Kehidupan Asrama Khadijah

Sebelum menikah dengan Nabi, Khadijah pernah menjadi isteri dari ‘Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik dan telah dikaruniai empat orang anak. Dua dengan suaminya yang bernama ‘Atiq, yaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah yaitu Hindun dan Zainab.

Sebagaimana dijelaskan dalam Tarikh at-Thobary II/211, bersama ‘Atiq beliau dikaruniai puteri yang kemudian meninggal dunia. Setelah ‘Atiq meninggal dunia, beliau menikah dengan Abu Haalah bin Zaraarah yang merupakan keturunan Abd ad-Daar bin Qushay, pernikahan beliau dengan Halaah dikaruniai putera yang diberi nama Hindun bin Abu Haalah.

Setelah Abu Haalah meninggal dunia, beliau kemudian menikah dengan Rasullullah SAW dengan membawa Hindun bin Abu Haalah bersamanya, pernikahan beliau bersama Nabi dikaruniai delapan putera yaitu : Al-Qaasim. at-Thoyyib, at-Thoohir, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah az-zahraa.

Jatuh Hati Pada Kemuliaan Muhammad

Kisah awal hubungan percintaan antara Khadijah dengan Nabi Muhammad SAW bukanlah berhubungan dengan pacaran atau hubungan lain seperti zaman sekarang ini. Kisahnya terjalin sebelum menjadi nabi, Muhammad telah bekerja di bawah perusahaan milik Khadijah. Nabi mengurusi barang-barang dagangan milik Khadijah untuk diekspor ke Syam.

Tugas ini dilakukan Muhammad dengan karyawan lainnya yakni Maisyarah. Dalam perdagangan inilah kepribadian nabi yang sangat mulia terbaca oleh Khadijah. Setiap kali pulang berdagang Maisyarah selalu melaporkan tentang perjalanannya, keuntungannya dan hal-hal yang terkait dengan perdagangan dan watak mulia Muhammad.

Dari laporan Maisyarah tentang kepribadian Muhammad yang mulia, yang penuh dengan budi pekerti agung, penuh kejujuran, dan kemampuan menjalankan bisnis secara professional, semakin membuat Khadijah mengagumi sosok Muhammad. Diam-diam ia menyimpan hati pada karyawannya sendiri.

Menikah dengan Rasullullah

Awal kelanjutan kisah ini terjadi melalui pamannya Muhammad yakni Abu Thalib. Khadijah wanita pemberani tersebut mengatakan padanya bahwa ia ingin menikah dengan Muhammad. Hingga saat itu terjadi, Muhammad bersedia dengan sepenuh hati menerima Khadijah sebagai isterinya.

Tibalah saat yang sakral dan bahagia, Muhammad menikah dengan Khadijah. Dengan maskawin 20 ekor unta muda. Pernikahan ini terjadi pada tahun 595 Masehi. Pernikahan agung ini berlangsung dari keluarga Khadijah yang diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin As’ad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad sendiri diwakili oleh paman Muhammad, Abu Thalib dan Hamzah.

Mahligai rumah tangga antara Muhammad dan Khadijah berlangsung selama 25 tahun yaitu 15 tahun sebelum menerima wahyu pertama dan 10 tahun setelahnya hingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Khadijah tutup usia pada usia 50 tahun.

Istimewanya Khadijah di Mata Rasullullah

Khadijah adalah wanita pertama yang menaklukan hati Rasullullah. Beliau adalah isteri pertama yang tak pernah dimadu. Sebab semua isteri nabi yang telah dimadu dinikahi setelah Khadijah wafat. Ini merupakan hal yang istimewa bagi Khadijah.

Selain itu, semua putra dan putri nabi, kecuali Ibrahin adalah anak kandung Khadijah. Pernikahannya dengan Khadijah menghasilkan enam keturunan yaitu, Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, dan Abdullah.

Rasullullah yang terlahir sebagai yatim dan kehilangan ibunda di masa kanak-kanak sepertinya telah menemukan sebuah cinta yang kuat pada Khadijah. Seorang wanita dengan selisih usia beberapa tahun di atas beliau, tentu bagaikan ibu yang penuh kasih ketika kekanakan seorang lelaki sesekali hadir memberi warna.

Khadijah merupakan seorang janda yang begitu teguh hati, penuh pengalaman hidup dan matang tentu saja membuat Muhammad merasa memiliki teman hidup dalam meraih kedewasaan dan kemuliaan akhlak. Khadijah seolah hadir menjadi bagian skenario Allah dalam mempersiapkan kenabiannya.

Peran Khadijah Dalam Kehidupan Rasullullah

Khadijah adalah perempuan pertama yang masuk islam. Hal ini menambahkan sisi ke istimewaan dari Khadijah. Ia juga selalu hadir di saaat yang genting dalam hidup Rasullullah.

Ia berperan mendampingi Rasullullah di masa-masa yang berat. Ketika dakwah Nabi ditindas, ketika risalah ditentang keras, dan sahabat-sahabat Rasullullah mengalami penyiksaan dan penganiayaan yang tak tertahankan.

Khadijah dengan sigap hadir dengan jiwa dan hartanya untuk membenarkan, membela, dan menjaga beliau dari para pencaci, pendengki, dan musuh dakwah. Kekuatan cinta Khadijah lah yang bisa menghangatkan beliau ketika angin cobaan menerpa.

Cinta Khadijah menenteramkan Rasullullah ketika gelisah dan ketakutannya meraja. Cinta Khadijah menguatkannya ketika lelah dan lemah mulai menyerang urat syarafnya. Cinta agung Khadijah hadir melengkapi kesempurnaan kehidupan Muhammad.

Sahabat-sahabat Khadijah banyak yang memanggil Khadijah dengan julukan “Ratunya Makkah”. Ia juga dikenal dengan julukan at-Thahirah, yaitu “yang bersih dan suci”. Julukan tersebut mempunyai makna bahwa Khadijah adalah perempuan yang patut menjadi teladan bangsa Arab.

Berpulangnya Khadijah

Khadijah jatuh sakit, hal ini menyebabkan kondisi kesehatan Khadijah semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, maka wafatlah seorang perempuan suci dan isteri nabi yang sabar, teguh imannya dan luar biasa dermawan, yang rela mengorbankan seluruh jiwa dan hartanya untu perjuangan nabi.

Sayyidah Siti Khadijah al-kubra binti Khuwailid wafat di usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi.Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun.

Hijabin Hati Dulu

KARTUN MUSLIMAH – Setiap hari bertemu, melihat bahkan berinteraksi dengan perempuan berhijab. Lama-kelamaan muncul rasa teduh saat melihat mereka yang terlihat anggun mengenakan hijab. Lalu dengan halus terbersitlah keinginan untuk berhijab seperti mereka.

Iseng-iseng waktu lagi ngumpul sama teman coba nyeletuk,
“eh kira-kira aku cocok gak ya kalau pakai hijab?”

Lalu dengan pasang wajah ekspresi tak percaya spontan ada yang langsung menjawab,
“What? Gak salah denger nih? Mimpi apa tadi malam?”

Lalu teman yang lain dengan nada merendah dan penuh pengertian nambahin,
“Aduuh gak usah neko-neko deh, yang masih nakal kayak kita gini lebih baik belajar hijabin hati dulu aja”.

“Diluar sana banyak lho orang yang udah pakai hijab tapi prilakunya gak sesuai dengan pakaiannya”. “Kan malah merusak citra Islam tuh”

Sahabat muslimah, mungkin di antara kita atau teman kita pernah mengalami kondisi seperti cerita di atas. Atau justru kita sendiri yang berpikir demikian,

“daripada pakai hijab tapi prilakunya gak Islami, lebih baik gak pakai hijab sekalian, nanti kalau akhlaknya udah Islami baru menutup aurat dengan sempurna”.
Ada lagi yang ngasi ide brilian

“kalau mau berhijab nanti aja kalau sudah punya suami, atau kalau sudah naik haji, atau kalau sudah tua nanti”.
“Kalau pakai hijab sekarang takutnya kamu gak istiqomah lho, malah buka pasang”.

Subhanallah, sekilas argument diatas kedengarannya seperti nasehat yang bijak ya. Karena hijab adalah identitas wanita muslimah, maka seorang muslimah harus berpilaku baik sesuai tuntunan Islam. Jika tidak maka hijab kita bisa menjadi jalan buruknya citra Islam.

Tapi apakah benar kita lebih utama memperbaiki prilaku dulu baru berhijab? Atau bahasa ngetrennya hijabin hati dulu baru hijabin fisik. Coba yuk kita bahas sedikit,
Menutup aurat kewajiban wanita soleha atau kewajiban setiap perempuan yang beriman?

Untuk tau jawabannya yuk sama-sama kita intip dalil tentang perintah menutup aurat di Qur’an surat An-Nur:31.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, ………”

Nah lhooo, jelas banget kan ayat diatas ditujukan kepada para perempuan yang beriman. Jadi kewajiban menutup aurat ditujukan kepada kita semua yang mengaku beriman pada Allah. Tanpa syarat harus soleha dulu, atau sudah haji dulu, atau sudah menikah dulu, atau sudah tua mendekati liang kubur dulu 😀
So, selagi masih mengaku muslim, wajib berhijab.

Kalau menunggu akhlaknya sempurna dulu, kapan berhijabnya?

Sahabat muslimah, memang benar bahwa sebagai seorang muslim/muslimah kita harus berakhlak baik sesuai yang dituntunkan dalam agama kita.

Bahkan Rasul kita menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah akhlak. Bukti keislaman seseorang adalah baiknya akhlaknya pada Allah, Rasul, sesama manusia dan makhluk Allah lainnya.

Rasulullah juga menegaskan dengan sabdanya:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”.

Namun apakah benar jika kita belum mampu memperbaiki akhlak maka tak berguna hijab yang kita pakai? Belum tentu.

Sekarang coba kita hayati dengan cermat. Sholat adalah salah satu kewajiban setiap umat Islam. Dan sholat yang diterima adalah sholat yang diniatkan ikhlas hanya karena Allah dan dilaksanakan dengan khusyu’.

Lalu saat kita belum bisa khusyu’ dalam solat dan terkadang niat sholat kita pun belum 100% karena Allah, apakah kita boleh meninggalkan sholat dengan alasan,

“saya mau meluruskan niat dan belajar khusyu’ dulu baru nanti solat, dari pada sekarang sholat tapi tak diterima Allah”. Astaghfirullaah.. Terlalu..

Nah begitu juga dengan berhijab. Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sedangkan akhlak adalah sesuatu yang memerlukan proses yang panjang. Sebagaimana khusyu’ sholatpun butuh latihan. Lalu kalau menunggu akhlaknya sempurna dulu, kapan berhijabnya?

Mulai berhijab saat ini juga, akhlak baikpun InsyaAllah mengikuti

Maka yang perlu kita lakukan adalah melaksanakan kewajiban kita untuk menutup aurat. Lalu sambil pelan-pelan memperbaiki diri dan hati. Saat sedang menatap wajah anggun nan berhijab di depan cermin jangan lupa ucapkan doa:

“Allahumma kamaa ahsanta khalqi fahassin khuluki”  ya Allah sebagaimana Engkau telah memperbagus wajahku maka baguskanlah akhlakku.

Buat yang sudah berhijab, keep istiqomah, terus semangat perbaiki kualitas diri, iman dan hati.

Bangga Menjadi Muslimah

KARTUN MUSLIMAH – Sahabat muslimah, adakah diantara kita yang belum merasakan kebanggaan sebagai seorang muslimah?

Saat teman-teman kita tampil menawan dengan potongan rambut ala artis-artis ternama. Adakah diantara kita yang masih berjalan tak percaya diri karena jilbab yang dikenakannya?

Saat teman-teman  hangout tampil fashionable dengan baju-baju yang lagi ngetren namun mengumbar aurat. Adakah diantara kita yang merasa tak nyaman untuk bergabung karena pakaian muslimah kita yang longgar dan menutup semua aurat kita tak masuk dalam daftar trand fashion tahun ini?

Saat teman-teman kita memiliki banyak teman lelaki baik di dunia maya maupun dunia nyata, adakah kita merasa kuper dan tak gaul karena kita membatasi interaksi dengan lawan jenis?

Jika jawabannya tidak, Alhamdulillah. Jika jawabannya iya, mungkin sahabat muslimah perlu membaca habis tulisan ini. Saya ingin memberi sedikit bocoran ke sahabat muslimah semua, mengapa kita harus bangga menjadi seorang muslimah. (Ssst walaupun ini bocoran jawaban, tapi boleh kok dibagi ke temen-temennya..)
Pakaian Muslimah adalah Tanda Ketinggian Peradaban

Sahabat muslimah, tahukan sahabat bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan? Sehingga apa yang Allah ciptakan selalu memiliki nilai keindahan luar biasa. Salah satu bukti indahnya maha karya Allah adalah penciptaan manusia. Khususnya wanita.

Kamu, ya kamu sahabat muslimah, kita adalah salah satu tanda Maha indahnya Allah. Allah menjadikan setiap bagian dari wanita itu indah. Setiap sisi dari wanita itu menarik. Hmm gak perlukan saya jelasin disini indahnya dimana?

Nah, jika kita mampu mensyukuri nikmat Allah ini, dengan menjaga diri kita sesuai aturan Allah yang menciptakan kita, maka itu akan menjadi kemuliaan bagi kita.

Namun keindahan fisik ini bisa menjadi jalan kehinaan bagi wanita jika kita tak mampu menjaga amanah ini. Keindahan fisik bukan untuk diumbar pada semua orang. Karena itu justru akan mengundang keburukan bagi kita.

Allah menciptakan manusia memiliki akal sementara hewan hanya memiliki insting. Karena hewan tidak memiliki akal maka ia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan insting. Dan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, hewan menggunakan fisiknya untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Tapi memang itulah sunnatullahnya.

Adapun kita manusia, dengan karunia akal dari Allah, kita memiliki cara yang lebih baik utuk memenuhi kebutuhan kita. Dengan akal manusia  mempunyai pilihan untuk menjadi makhluk paling mulia atau justru paling hina.

Maka Maha suci Allah yang membuat aturan bagi seorang wanita untuk menjaga kehormatannya. Yang akan menunjukkan bahwa kita adalah makhluk berperadaban. Salah satunya dengan menutup aurat dengan sempurna.

Tanpa memamerkan keindahan rambut, bersih dan lembutnya kulit, serta indahnya bentuk tubuh, menjadikan seorang muslimah terhindar dari lirikan nakal, colekan genit, hingga pelecehan.

Allah muliakan kita dengan menjadikan diri kita berharga, yang keindahannya tak untuk diobral pada semua orang, yang hanya boleh disentuh oleh lelaki yang menghalalkan diri kita dengan bersaksi dihadapan orangtua kita dan Allah tentunya untuk memuliakan kita.

Sahabat muslimahku, dengan menyadari hal ini, maka menutup aurat dengan sempurna adalah ukuran bahwa kita para wanita sudah menyadari betapa diri kita adalah berharga. Pakaian muslimah yang menutup aurat dengan sempurna adalah tanda ketinggian peradaban manusia. Maka seharusnya kita bangga dengan busana muslimah yang kita kenakan.

Seorang Muslimah Dinilai dari Kualitas Dirinya bukan Fisiknya

Saat wanita sudah menutup auratnya dengan sempurna, maka wanita tidak lagi dinilai dari cantiknya, seksinya, atau daya tarik fisik lainnya.

Seorang muslimah akan dilihat dari kualitas dirinya; dari kepribadiannya; kecerdasannya; karyanya dan tentunya ketaqwaannya pada Allah. Sebagaimana Allah pun tidak melihat kita dari fisik maupun harta, tapi pada hati dan amal.

Sabda Rasulullah “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kalian dan tidak pula harta benda kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian”.

Sahabat muslimah, beruntunglah kita saat kita dihargai dari kualitas diri. Artinya kita memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Sementara jika kita dinilai dari fisik, mungkinkah kita merubah ciptaan Allah?
Hanya Islam yang memuliakan wanita dengan penghargaan yang tinggi

Nah, untuk yang satu ini kita para muslimah harus banyak bersyukur pada Allah. Cobalah sahabat muslimah pelajari agama-agama lain. Manakah agama yang memuliakan wanita sebaik Islam memuliakan muslimah?
Ini nih beberapa contoh yang membuktikan betapa Islam sangat memuliakan wanita.

Pertama, Allah memuliakan wanita dengan perannya sebagai ibu. Sebuah hadis yang sangat kita hafal, Rasulullah mengatakan bahwa “surga dibawah telapak kaki ibu”. Ridho ibu menjadi jalan surga bagi seorang muslim/muslimah.

Kedua, Allah muliakan wanita melalui perannya sebagai istri. Nabi kita  yang muliabersabda:

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap istriku”.

Dalam hadis ini Rasulullah menjadikan ukuran baiknya seorang laki-laki adalah dari bagaimana sikapnya memperlakukan istrinya.

Ketiga, saat di zaman jahiliyah dulu memiliki anak perempuan adalah aib besar, dengan islam Allah tinggikan derajat wanita dengan berbagai keutamaan. Salah satunya sabda nabi tentang mengasuh anak perempuan,

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku”.

Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan berbuat baik kepada anak perempuan, memberi nafkah kepada mereka, dan bersabar mengurus urusan mereka. Kita sebagai anak perempuan dari orang tua kita bisa menjadi jalan surga bagi kedua orang tua kita. Subhanallah.

Sahabat muslimah, dengan menyadari semua ini, masih adakah alasan bagi kita untuk tak bangga dan bersyukur menjadi seorang muslimah?