Biografi Masyitoh: Sang Tukang Sisir di Kerajaan Fir’aun

kartun muslimah biografi masyitoh
iluvislam.com

KARTUN MUSLIMAH — Masyitoh, satu nama yang mungkin sudah tak asing di telinga kaum muslim. Namanya begitu terkenal dilangit bahkan di bumi. Kisahnya begitu klasik, karena terjadi ribuan tahun yang lalu. Tepatnya zaman mesir kuno dimana Fir’aun, sang raja bengis berkuasa.

Masyitoh, seorang muslimah yang tak kenal takut pada penguasa kafir. Imannya tak goyah meskipun menahan perihnya air mendidih. Kisahnya terungkap saat Nabi agung Muhammad SAW melakukan isro mi’roj.

Kisah Masyitoh ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-Nya (1/309), at-Thabrani dalam al-mu’jamul Kabir (11/450), dan al-Bazzar sebagaimana dalam Kasyful Astar (1/37). Kisah ini didapat oleh Nabi Muhammad SAW saat melakukan Isro mi’roj dengan Malaikat Jibril.

Suatu ketika saat Rasullullah SAW melakukan perjalanan isro mi’roj, Nabi mencium aroma yang sangat harum. Semerbak wanginya itu membuat langkahnya terhenti. Penasaran, Nabi pun bertanya kepada Malaikat Jibril, “harum apakah itu wahai Jibril?”

Malaikat Jibril pun menjawab, “itu adalah wangi dari kuburan seorang wanita shalihah bernama Masyitoh. Wanita yang memegang teguh keimanan kepada Allah SWT”. Hal ini diriwayatkan dalam hadist Ibnu Abbas.

Biografi Masyitoh

Pertanyaannya, siapakah Masyitoh? Wanita shalihah yang disebut oleh Jibril? Ternyata, ia hidup pada zaman Mesir Kuno. Zaman dimana Fir’aun, si raja bengis nan kejam memimpin. Era dimana Fir’aun yang angkuh selalu menganggap dirinya sebagai Tuhan.

Di dalam kehidupan Mesir Kuno yang serba tertekan, ternyata ada beberapa orang yang diam-diam beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa As. Mereka mengikuti tuntunan kitab, yaitu kitab taurat yang dibawa Nabi Musa.

Orang-orang yang beriman tersebut adalah Siti Asiyah, istri Fir’aun, Masyitoh yang mengurus anak Fir’aun dan seorang lelaki yang bernama Hazaqil. Laki-laki tersebut adalah seorang pembuat peti, tempat Musa kecil ditaruh untuk kemudian dihanyutkan ke sungai.

Hazaqil sendiri adalah suami dari Masyitoh, ia di istana menjadi orang kepercayaan Fir’aun. Suatu ketika terjadilah perdebatan antara Fir’aun dan dirinya. Penyebabnya adalah Fir’aun menjatuhkan hukuman mati kepada seorang ahli sihir yang beriman kepada Nabi Musa, sedangkan Hazaqil sangan menentang keputusannya.

Sikap tersebut menimbulkan kecurigaan Fir’aun. Hazaqil dihukum mati oleh Fir’aun karena ia ternyata beriman kepada Tuhan Nabi Musa, Allah SWT.

Peristiwa itu membuat Masyitoh sedih. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT atas kejadian yang menipa suaminya.

Tukang Sisir Pemberani

Nama Masyitoh sendiri bukan lah nama sebenarnya. Masyitoh diambil dari istilah arab yang berarti “Tukang Sisir”. Ia bekerja sebagai tukang sisir di kerajaan Fir’aun.

Suatu hari, ia sedang menyisiri rambut anak perempuan Fir’aun seperti biasanya. Tiba-tiba sisir yang digunakanya terjatuh, dan ia pun spontan mengucap, “Bismillah (dengan menyebut nama Allah)”.

Anak perempuan Fir’aun terkejut, dan bertanya kepada Masyitoh, “Apakah engkau punya Tuhan selain ayahku?”

Tanpa keraguan apapun Masyitoh menjawab dengan mantap, “Tuhanku adalah Tuhanmu dan Tuhan Ayahmu juga Tuhan segala sesuatu ialah Allah.”

Anak perempuan Fir’aun tersebut sangat terkejut, saat itu pula ia menampar dan memukuli Masyitoh,  sambil berkata, “akan kuadukan hal ini pada ayahku”.

“Silakan”, jawab Masyitoh tanpa perasaan takut.

Fir’aun, yang saat itu mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan langsung murka dan memerintahkan agar Masyitoh ditangkap. Fir’aun dengan sombong bertanya, “ Apakah benar engkau menyembah Tuahan selain aku?”

Dengan tegas Masyitoh menjawab, “Ya memang benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu hanyalah Allah, dan hanya kepadanya aku menyembah”.

Sang penguasa Mesir Kuno ini sangat marah mendengar jawaban tersebut. Kemudian Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya untuk menyiksanya dengan mengikat kedua tangan dan kedua kakinya dihadapan warga Mesir Kuno. Hal ini sengaja Fir’aun lakukan agar mereka tahu jika melawan Fir’aun akan berakibat fatal.

Tak hanya sampai disitu penderitaan yang dialami Masyitoh. Ular-ular berbisa yang dilepaskan para algojo istana pun turut mengerumuni tubuhnya. Penyiksaan dan penderitaan itu berlangsung dalam waktu yang lama.

Ujian Sang Penggenggam Iman

Setelah mengalami berbagai penyiksaan dan penderitaan, Fir’aun pun datang melihat kembali keadaannya dan berkata, “Apakah engkau hendak kembali (murtad) dari keyakinanmu itu?” Masyitoh tetap teguh menjawab, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu ialah Allah”.

Mendengar keteguhan iman Masyitoh, Fir’aun tak kuat menahan amarah dan seketika ia mengambil keputusan untuk menyiksa dan membunuh anak-anak Masyitoh.

Ibu mana yang tak terguncang jika mendengar ancaman Fir’aun tersebut. Tentu saja Masyitoh sangat takut dan khawatir. Namun hal itu juga ternyata tetap tak membuat Masyitoh goyah.

Air mata Masyitoh mengalir deras tatkala ia harus melihat anak sulungnya yang kesakitan menahan panasnya air mendidih di dalam tungku. Melihat hal itu, Fir’aun pun membujuk kembali Masyitoh agar berpikir ulang. Tapi pendiriannya malah semakin mantap untuk tetap teguh menjaga imannya sampai mati.

Dengan sigap Fir’aun meminta prajurit untuk memasukan anak Masyitoh yang kedua kedalam tungku. Belum kering air mata Masyitoh, kini hatinya remuk redam tersayat-sayat melihat kembali anaknya meregang nyawa dalam tungku.

Hati Masyitoh menjadi ragu. Dalam kebimbangan memikirkan tawaran Fir’aun sekali lagi, ia merasa iba pada bayi mungil dalam gendongannya. Anak itu masih menyusu, Masyitoh pun memikirkan ucapan Fir’aun sambil menangis.

Atas izin Allah, tiba-tiba anak bungsunya itu bisa berbicara. “Duhai Ibuku, janganlah kau ragu, masuklah! Sesungguhnya siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.”

Kaget bercampur gembira mendengan bayinya yang bisa berbicara, tanpa ragu ia memutuskan untuk mati di dalam tungku itu juga. Namun sebelum itu ia meminta satu permintaan terakhir pada Fir’aun.

Permintaannya sangat mudah yakni ia meminta untuk mengumpulkan tulangnya beserta tulang anak-anaknya dalam satu kain kafan. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Fir’aun.

Tanpa ragu Masyitoh mantap masuk kedalam tungku panas tersebut sambil menggendong bayinya. Akhirnya, ia beserta anak-anaknya mati syahid dengan mengenggam iman yang indah.

Memaknai Pelajaran Dari Kisah Masyitoh

Masyitoh, wanita mulia penggenggam iman ini telah wafat. Namun, kisahnya tak lekang ditelan zaman. Bahkan setelah ribuan tahun sekalipun. Kisahnya begitu berharga untuk dipetik hikmahnya, hingga kini kisahnya banyak menginspirasi dan selalu terngiang di telinga orang-orang yang rindu menggenggam iman demi bertemu dengan Rabb-nya

Masyitoh telah memberi banyak inspirasi sekaligus motivasi untuk kita dalam mempertahankan iman. Ada sejumlah pelajaran yang dapat kita gali dari kisahnya, diantaranya adalah:

  • Sabar, kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan di dunia. Karena dunia hanyalah sementara, akhiratlah sumber kebahagiaan abadi yang sesungguhnya.
  • Teguh dalam pendirian yang baik. Itulah yang dilakukan Masyitoh beserta anak-anaknya. Rasullullah bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan masing-masing dari keduanya mendapatkan kebaikan.” (H.R Muslim)
  • Pentingnya menggenggam iman. Masyitoh sang penggenggam iman telah mencontohkan kepada kita bahwa sesungguhnya iman adalah senjata yang sangat ampuh untuk menjadikan kita dekat dengan Allah SWT. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(Q.S An-Nahl:16:128)

Merdeka Itu…

 

renungan harian – blogger
KARTUN MUSLIMAH – Salam sahabat muslimah, dah mendekati 17 agustus nih, pasti jalanan udah rame dengan umbul-umbul merah putih ya.
 
Halaman rumah mendadak punya tiang bendera, yaa walaupun Cuma dari bambu atau kayu seadanya. Semua semangat memasang bendera kebanggaan kita sang merah putih di rumah dan berbagai tempat.
 
Yang jelas semua warga Indonesia bersemangat dan berbahagia menyambut peringatan hari kemerdekaan negara kita yang tercinta ini.
 
Moment peringatan hari kemerdekaan menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia bahwa dahulu kita adalah bangsa yang terjajah, dan saat ini kita sudah merdeka, bebas menentukan sendiri nasib bangsa kita.
 
Ngomong-ngomong soal merdeka, soal kebebasan, kita memang sudah bebas dari jajahan militer. Tapi secara individu sebenarnya apa sih makna kebebasan bagi sahabat muslimah?
 
Apa kita benar-benar sudah merdeka? Saya punya sedikit curahan hati nih tentang makna kemerdekaan..
Merdeka itu…
Saat bebas makan apa aja (yang pasti halal n toyyib ya..)  tanpa khawatir jadi gemuk dan dikomen temen “eh kok gemukan sekarang?”
[trus kalau aku gemukan, massallah…?]
 
Merdeka itu…
Saat sate kambing udah tersaji dimeja makan, bisa langsung baca doa dan melahap nikmatnya tu daging kambing, tanpa harus ribet selfie dulu sama si kambing yang udah ditusuk-tusuk itu, lalu upload ke instagram dengan caption “lunch siang ini menunya sate kambing :D”
[helloo sista gak ada yang tanya jugaa…
 
Merdeka itu…
Saat hati gak risau karna follower ig gak nambah-nambah, atau baper berkepanjangan gegara updetan sejam yang lalu belum ada yang nge-like..
 
[padahal poto yang diupload dah dipilih gaya yang paling cute, yang moto malah sampe jungkir balik demi ngedapetin angel tebaik..] hee
 
Merdeka itu…
Saat hati tetap tentram memakai gamis yang ada, sementara teman kos-an kedatengan paket dari onlineshop isinya gamis cantik keluaran terbaru.
 
Merdeka itu…
Saat bisa bebas baca Qur’an kapan aja dimana aja tanpa hawatir di komen “kamu sok alim deh”
 
Atau saat bebas memilih gak salaman sama yang bukan muhrim tanpa takut dianggap “sok suci”
 
Merdeka itu…
Saat bisa menlenggang bahagia saat datang ke walimahan tanpa hawatir digelari jomblo sejati atau gak laku karena datang tanpa gebetan or pacar
 
Atau saat bisa dengan tegas mengatakan “maaf saya muslim, saya gak pacaran” saat ada cowok keren yang nembak ngajak jadian.
Merdeka itu…
Saat kita tidak diatur oleh dunia, tapi kitalah yang mengatur dunia
 
Merdeka itu…
Saat kita tak latah terbawa arus zaman, tapi kitalah yang memutuskan akan mengambil sikap apa dalam setiap perubahan zaman
 
Merdeka itu…
Saat kita bisa menjadi pioner kebaikan, bukan follower keburukan
 
Merdeka itu…
Saat kita bisa dengan lantang mengatakan

 

“AKU MUSLIM, AKU CINTA NKRI, AKU INDONESIA”.
 
So, apa arti kemerdekaan buat sahabat muslimah?

Hijabin Hati Dulu

KARTUN MUSLIMAH – Setiap hari bertemu, melihat bahkan berinteraksi dengan perempuan berhijab. Lama-kelamaan muncul rasa teduh saat melihat mereka yang terlihat anggun mengenakan hijab. Lalu dengan halus terbersitlah keinginan untuk berhijab seperti mereka.

Iseng-iseng waktu lagi ngumpul sama teman coba nyeletuk,
“eh kira-kira aku cocok gak ya kalau pakai hijab?”

Lalu dengan pasang wajah ekspresi tak percaya spontan ada yang langsung menjawab,
“What? Gak salah denger nih? Mimpi apa tadi malam?”

Lalu teman yang lain dengan nada merendah dan penuh pengertian nambahin,
“Aduuh gak usah neko-neko deh, yang masih nakal kayak kita gini lebih baik belajar hijabin hati dulu aja”.

“Diluar sana banyak lho orang yang udah pakai hijab tapi prilakunya gak sesuai dengan pakaiannya”. “Kan malah merusak citra Islam tuh”

Sahabat muslimah, mungkin di antara kita atau teman kita pernah mengalami kondisi seperti cerita di atas. Atau justru kita sendiri yang berpikir demikian,

“daripada pakai hijab tapi prilakunya gak Islami, lebih baik gak pakai hijab sekalian, nanti kalau akhlaknya udah Islami baru menutup aurat dengan sempurna”.
Ada lagi yang ngasi ide brilian

“kalau mau berhijab nanti aja kalau sudah punya suami, atau kalau sudah naik haji, atau kalau sudah tua nanti”.
“Kalau pakai hijab sekarang takutnya kamu gak istiqomah lho, malah buka pasang”.

Subhanallah, sekilas argument diatas kedengarannya seperti nasehat yang bijak ya. Karena hijab adalah identitas wanita muslimah, maka seorang muslimah harus berpilaku baik sesuai tuntunan Islam. Jika tidak maka hijab kita bisa menjadi jalan buruknya citra Islam.

Tapi apakah benar kita lebih utama memperbaiki prilaku dulu baru berhijab? Atau bahasa ngetrennya hijabin hati dulu baru hijabin fisik. Coba yuk kita bahas sedikit,
Menutup aurat kewajiban wanita soleha atau kewajiban setiap perempuan yang beriman?

Untuk tau jawabannya yuk sama-sama kita intip dalil tentang perintah menutup aurat di Qur’an surat An-Nur:31.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, ………”

Nah lhooo, jelas banget kan ayat diatas ditujukan kepada para perempuan yang beriman. Jadi kewajiban menutup aurat ditujukan kepada kita semua yang mengaku beriman pada Allah. Tanpa syarat harus soleha dulu, atau sudah haji dulu, atau sudah menikah dulu, atau sudah tua mendekati liang kubur dulu 😀
So, selagi masih mengaku muslim, wajib berhijab.

Kalau menunggu akhlaknya sempurna dulu, kapan berhijabnya?

Sahabat muslimah, memang benar bahwa sebagai seorang muslim/muslimah kita harus berakhlak baik sesuai yang dituntunkan dalam agama kita.

Bahkan Rasul kita menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah akhlak. Bukti keislaman seseorang adalah baiknya akhlaknya pada Allah, Rasul, sesama manusia dan makhluk Allah lainnya.

Rasulullah juga menegaskan dengan sabdanya:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”.

Namun apakah benar jika kita belum mampu memperbaiki akhlak maka tak berguna hijab yang kita pakai? Belum tentu.

Sekarang coba kita hayati dengan cermat. Sholat adalah salah satu kewajiban setiap umat Islam. Dan sholat yang diterima adalah sholat yang diniatkan ikhlas hanya karena Allah dan dilaksanakan dengan khusyu’.

Lalu saat kita belum bisa khusyu’ dalam solat dan terkadang niat sholat kita pun belum 100% karena Allah, apakah kita boleh meninggalkan sholat dengan alasan,

“saya mau meluruskan niat dan belajar khusyu’ dulu baru nanti solat, dari pada sekarang sholat tapi tak diterima Allah”. Astaghfirullaah.. Terlalu..

Nah begitu juga dengan berhijab. Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sedangkan akhlak adalah sesuatu yang memerlukan proses yang panjang. Sebagaimana khusyu’ sholatpun butuh latihan. Lalu kalau menunggu akhlaknya sempurna dulu, kapan berhijabnya?

Mulai berhijab saat ini juga, akhlak baikpun InsyaAllah mengikuti

Maka yang perlu kita lakukan adalah melaksanakan kewajiban kita untuk menutup aurat. Lalu sambil pelan-pelan memperbaiki diri dan hati. Saat sedang menatap wajah anggun nan berhijab di depan cermin jangan lupa ucapkan doa:

“Allahumma kamaa ahsanta khalqi fahassin khuluki”  ya Allah sebagaimana Engkau telah memperbagus wajahku maka baguskanlah akhlakku.

Buat yang sudah berhijab, keep istiqomah, terus semangat perbaiki kualitas diri, iman dan hati.