Berguru pada Kisah Ali dan Fatimah

Berguru pada Kisah Ali dan Fatimah
https://i.pinimg.com/

Berguru pada Kisah Ali dan Fatimah

Awal Kisah

Fatimah RA, buah hati yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Sosok nan elok paras maupun akhlaknya. Setiap lelaki pasti jatuh hati kepadanya. Namun tentu tidak mudah untuk bisa bersanding disisinya, menjadikannya teman hidup baik di dunia maupun akhirat.

Perassaan jatuh hati namun sulit untuk memiliki melanda banyak lelaki, salah satunya Ali bin Abi Thalib. Diam-diam dia mengagumi dan menginginkan putri Rasulullah tersebut. Akan tetapi dia takut, mana mungkin seorang pemimpin umat itu mau memberikan anaknya kepada seorang pemuda miskin seperti dirinya.

Meskipun kita mengenal sosok Ali bin Abi Thalib sebagai salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW, selain pernah tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang yang setia menemani dakwah Rasulullah , dan juga seorang mujahid perang yang gagah dan pemberani.

Tapi memang wajar jika ketidak percayaan diri itu muncul dalam benak Ali. Banyak tokoh hebat lainnya yang juga menginginkan Fatimah. Sebut saja Abu Bakar Ash Shiddiq, sosok yang juga sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Dia juga dikenal sebagai orang yang pertama kali membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi SAW dan sangat gencar membantu dakwah beliau, mempertaruhkan segenap jiwa dan harta yang dimiliki Abu Bakar.

Pada suatu hari Abu Bakar melamar Fatimah. Mengetahui hal itu Ali merasa terkejut, sontak hatinya menjadi hancur. Ali merasa diuji atas peristiwa tersebut. Ali menjadi semakin tidak berdaya. Iya sangat yakin bahwa Rasulullah akan menerima lamaran tersebut. Jika dibandingkan dengan dirinya, Ali berpendapat bahwa Abu Bakar memiliki perjuangan yang lebih besar dalam menyebarkan risalah Islam.

Entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah.Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu bakr Ashiddiq. Beberapa diantaranya seperti Bilal bin Rabbah, Khabbab, ‘Abdullah ibn mas’ud.

Pasti Rasulullah lebih memilih Abu Bakar dari pada dirinya. Alipun ikhlas jika demikian, sebab Abu Bakar memang pantas, kuat dari segi agama maupun finansial, dia pasti lebih mampu membahagiakan Fatimah. Begitulah pikir Ali.

Tidak lama waktu berselang, Ali mendengar kabar bahwa lamaran Abu Bakar kemarin ternyata tidak diterima baik oleh Rasul SAW maupun Fatimah. Ali serasa mendapat angin segar, harapannya yang sempat padam kini kembali menyala. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu.

Nampaknya kesempatan itu tidak kunjung datang menghampiri Ali. Ujian kembali datang. Muncul sosok lain yang datang menemui Rasulullah SAW untuk melamar Fatimah RA. Dia adalah Umar bin Khattab. Seorang lelaki yang pemberani dan  gagah perkasa, mampu mengangkat derajat kaum muslimin berkat dirinya yang memeluk Islam, dan membuat syaithan berlari ketakutan serta musuh-musuh Islam bertekuk lutut.

Sama seperti sebelumnya, Ali yakin benar jika lamaran kali ini akan diterima. Ali RA akan ridha jika lelaki bergelar Al-Faruq ini meenjadi suami dari Fatimah, dia akan turut bahagia jika Fatimah juga bahagia.

Namun ternyata masih sama seperti sebelumnya, Ali menerima kabar ternyata lamaran Umar RA juga ditolak. Tentu ini membuat Ali merasa sedikit lega, namun ia juga semakin bingung, serta keresahan dalam dirinya kian meningkat. Sosok seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh Rasulullah Saw, masih menjadi tanda tanya besar dalam dirinya. Tetapi, Ali masih berharap jika kesempatan itu suatu hari akan mendatanginya.

Gerbang Awal Menuju Pernikahan

Singkat cerita, ada sahabat Anshar yang mengetahui perasaan Ali terhadap putri Nabi SAW. Diapun menyerukan kepada Ali agar memberanikan diri menemui ayah dari Fatimah. “Mengapa tidak kau coba kawan?, aku punya firasat, engkaulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu Baginda Nabi SAW”.

Ucapan dari sahabat Anshar teersebut dijawab dengan lesu, penuh dengan keraguan. Ali menyampaikan perihal banyaknya lelaki hebat yang ditolak lamarannya, sementara sosoknya hanya seorang yang miskin. Menurut Ali sudah jelas jika dia tidak pantas bersanding dengan Fatimah.

Sebagai seorang sahabat, jawaban yang disampaikan Ali tidak membuatnya menyerah. Sahabat Anshar tersebut benar-benar mengenal Ali RA, dan yakin bahwa Ali adalah sosok yang tidak kalah pantas bagi Fatimah RA. Sehingga, sang sahabat terus membujuk Ali, memberikan semangat serta meyakinkan Ali agar memberanikan diri.

https://i.pinimg.com/

 

“Cinta tak pernah minta untuk menunggu, Ia hanya mengambil kesempatan dengan segera atau mempersilakan, karena cinta tentang keberanian dan pengorbanan”

Setelah memikirkan matang-matang setiap perkataan sang sahabat, Akhirnya Ali bin Abi Thalibpun berangkat menjumpai Rasulullah, untuk menyampaikan maksud hatinya, yaitu meminang Fatimah binti Rasulullah SAW.

Berbekal tekad kuat, Ali mendatangi rumah Rasulullah SAW. Setelah mendengar maksud dan tujuan Ali, Rasulullah berkata, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawab Ali. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang ku berikan kepadamu,” Tanya Rasul. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” kata Ali. Kemudian Rasulullah berkata,“Berikan itu kepadanya (Fatimah) sebagai mahar”.

Dengan hati yang berbunga-bunga, Ali bin Abi Thalib bergegas pulang menuju rumah dan mengambil baju besinya. Rasulullah SAW lantas menyuruh menjualnya. Baju besi tersebut dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan beliau menyerahkan uang tersebut kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Setelah sekian lama menanti, tibalah hari perknikahan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Semua kaum muslimin turut merasakan kebahagiaan pengantin dan bersuka cita atas pernikahan tersebut. Keduanya  dikaruniai empat orang anak, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan yang terakhir benama Ummu Kultsum.

 

Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Kemudian yang tidak bisa dipungkiri adalah cobaan dalam kehidupan rumah tangga. Meskipun mereka adalah pasangan yang luar biasa, Allah tidak lantas membebaskan mereka dari ujian rumah tanga. Fatimah RA bahkan pernah mengeluh kepada sang ayah atas kehidupan rumah tangganya yang berat dan melelahkan.

Akan tetapi kembali lagi, berkat bantuan Allah SWT dan keimanan yang dimiliki oleh pasangan tersebut, kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Bahkan semakin baik seiring dengan berjalannya waktu. Dapat dirasakan bahwa keberkahan datang silih berganti.

 

Hikmah yang Dapat Dipetik

Pribadi Ali yang ternyata memiliki keistimewaan tersendiri bagi Rasul SAW, sehingga memutuskan menerima lamaran tersebut. Tidak ada yang bisa meragukan piliha Rasulullah. Dibalik kekurangan yang dimiliki Ali RA, terdapat banyak kelebihan yang tidak mampu dilihat oleh dirinya sendiri.

Termasuk bagaimana Ali mampu menjaga kesabarannya, menahan hawa nafsunya, dan senantiasa beribadah kepada Allah SWT atas segala ujian yang menimpa dirinya. Berbicara mengenai cinta dan perasaan memang nampak sepele, namun bisa dibayangkan seorang Alipun pernah dibuat kewalahan menghadapinya. Bagaiman dengan kita yang keimanannya jau di bawah Ali RA. Maka sudah seharusnya kita benar-benar mampu memaknai apa itu cinta dan selalu berserah kepada Yang Kuasa agar senantiasa dalam penjagaan-Nya.

Istri Fir’aun yang Beriman, Asiyah RA

Istri Fir'aun yang Beriman, Asiyah RA
https://id.pinterest.com/

Istri Fir’aun yang Beriman, Asiyah RA – Berbicara mengenai kisah Nabi Musa AS terdapat seorang perempuan yang tidak luput  penyebutanya, yaitu Siti Asiyah RA. Seperti yang kita ketahui, telah dikisahkan dalam Al Qur’an Surat Al Qashas ayat 7-13 mengenai masa bayi Nabi Musa AS dihanyutkan oleh sang Ibu di aliran Sungai Nil, yang kemudian ditemukan oleh Asiyah RA. Dia lantas membawa Musa kecil menjadi bagian dari istana, dan merawatnya  dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung.

Selain dikenal karena peran besarnya dalam mendidik seorang calon nabi Allah, nama Asiyah RA juga harum karena kepribadian yang ada dalam dirinya. Dia dikenal sebagai perempuan yang mampu memegang teguh keimanannya terhadap Allah SWT. diatas berbagai cobaan besar dalam kehidupannya.

Asiyah RA binti Muzahim bin Ubaiduddayyan bin Walid, berasal dari sebuah qabilah arab di Jazirah Arabiah. Ayahnya adalah seorang raja diantara sekian kerajaan yang tunduk dibawah hukum Mesir pada zaman kejayaan Dinasti Fir’aun. Berkat parasnya yang rupawan, ia kemudian diperistri oleh pimpinan kerajaan, Fir’aun.

Asiyah RA Sosok perempuan yang berbudi pekerti luhur, sabar, penyayang, dan juga penuh kemuliaan. Sifatnya sangat berbeda apabila dibandingkan dengan sang suami, yang dzalim, kejam, dan angkuh. Pada awal masa pernikahan, Asiyah RA RA menjalni kehidupan bersama sang suami dengan bahaagia, namun lambat laun sifat asli yang dimiliki sang suami mulai muncul, perlahan kebahagiannya terkikis.

Kebahagian itu perlahan sirna, digantikan oleh perasaan sedih, tertekan dan berat hati.  Semua itu didasari oleh sang suami yang menyerukan dirinya dihadapan seluruh penjuru negeri sebagai seorang Tuhan, memaksa mereka untuk menyembahnya, atau jika tidak, hukuman berat akan dijatuhkan kepada siapa saja yag membangkang.

Menyadari bahwa dirinya termasuk sebagai salah satu pembangkang di mata sang suami. Benar, Asiyah RA mengakui keberadaan tuhan lain, yaitu Allah Yang Maha Esa. Tentu dia menjadi takut, dan memilih untuk menyembunyikan keimanan tersebut dari suaminya. Dalam kurun waktu yang lama Asiyah RA hidup dalam kegelisahan.

Seiring berjalannya waktu, bayi yang ditemukannya dulu telah tumbuh menjadi sosok pilihan Allah SWT. Suatu hari Musa diberi wahyu oleh Allah, tanda bahwa beliau telah diangkat menjadi seorang nabi sekaligus rasul. Salah satu tugas yang diemban seorang rasul adalah berdakwah, menyerukan ke-Esaan Allah SWT.

Tentu Nabi Musa AS tidak mengkhianati tugas mulia tersebut, sehingga memunculkan permusuhan besar antara beliau dan Fir’aun. Singkat cerita Fir’aun meminta bantuan para tukang sihir istana untuk melawan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS, untuk membuktikan bahwa dialah tuhan satu-satunya, bukan Allah SWT seperti yang diajarkan oleh kedua nabi tersebut.

Atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa, Nabi Musa dan Nabi Harun menang menghadapi para tukang sihir tersebut. Bahkan mereka berbondong-bondong menyatakan keimanannya kepada Allah SWT dan meninggalkan Fir’aun. Peristiwa kemenangan itulah yang kemudian membuka jati diri seorang Asiyah RA.

Ketika itu Asiyah RA belum mengetahui kabar gembira yang terjadi. Dia memutuskan untuk bertanya ke seorang pembesar istana, “Siapakah yang menang (dalam pertandingan itu)?” Maka pembesar istana menjawab, “Yang menang adalah Musa dan Harun.” Kemudian tanpa ragu, Asiyah RA bersaksi dengan lantang, “Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.”

Apa yang diucapkan Asiyah RA RA akhirnya sampai di telinga sang suami. Jelas, Fir’aun semakin bertambah marah. Setelah para tukang sihir istana, sekarang justru istrinya sendiri yang  tidak mengakui ketuhanannya. Fir’aun tidak habis pikir, akhinya dia memilih untuk meminta pendapat para pembesar kerajaan, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Asiyah RA binti Muzahim?”

Tidak semua para pembesar tersebut mengetahui apa maksud sebenarnya dari pertanyaan yang dilontarkan Fir’aun, sehingga kebanyakan menjawabnya dengan pujian terhadap Asiyah RA. Selanjutnya raja kejam itu menambahkan beberapa kata memperjelas pertanyaan sebelumnya, “Sesungguhnya permaisuri ku sekarang menyembah selain aku!”

Seketika mereka kaget atas ucapan Fir’aun, lalu para pembesar itu berkata , “Wahai paduka, jika memang begitu hukum mati saja dia.” Raja yang biadab itu tanpa pikir panjang menyetujui apa yang diusulkan para pembesar kerajaan. Asiyah RA lantas ditangkap oleh para prajurit kerajaan.  Tubuhnya dilentangkan, kedua tangan dan kakinya diikat di antara empat pasak. Penyiksaan terhadap istrinya sendiripun dimulai.

Berkali-kali cambukan dihempaskan dengan keras ke arah perempuan tak berdaya itu, memunculkan bekas di sekujur tubuhnya. Tetapi Asiyah RA masih dalam kesabarannya dan mengharapkan pahala atas rasa sakit yang menimpanya. Sejenak menghentikan penyiksaan, Fir’aun kemudian menawarkan pengampunan.

Istri Fir’aun menolak mentah-mentah tawaran yang ada, dia tidak bersedia berpindah keyakinan. Kemarahan Fir’aun semakin menajadi-jadi mendengar jawaban Asiyah RA. Tidak sedikitpun terlihat rasa takut dari matanya. Sehingga berbagai siksaan masih terus berlanjut.

https://id.pinterest.com/

Allah Maha Melihat dan juga Maha Mendengar. Tidak ada kekhawatiran, karena Allah SWT pasti melihat segala perjuangan dalam menghadapi kesusahan. Selain itu, selama penyiksaa  Asiyah RA tiada henti memanjatkan doa yang kemudian terukir dalam Al Qur’an Surat At-Tahrim ayat 11 : “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga.”

Dalam sekejap, Allah mengabulkan do’a tersebut, sehinnga Asiyah RA malah tersenyum saat disiksa. Hal itu karena Allah menampakkan rumahnya kelak di Surga. Meyaksikan raut bahagia Asiyah sementara dirinya tengah disiksa membuat Fir’aun dan para pembesar kerajaaa terheran-heran.

Setelah dicambuk, kemudian tubuh Asiyah RA ditimbun dengan batu besar yang diletakkan di atas dadanya. Panasnya terik matahari tentu menambah rasa sakit. Berabagai bentuk penyiksaan dilakukan, berkali-kali pula Fir’aun mencoba membujuk Asiyah. Namun selalu sama, perempuan tangguh itu tetap tidak mengubah keimanannya.

Kesabaran Fir’aun benar-benar telah habis, ia kemudian meminta kepada para algojonya untuk mengambil batu besar untuk dilemparkan kepada tubuh Asiyah RA. Ketika tiba para algojo akan melemparkan batu besar ke tubuh Asiyah RA, dia hanya menengadahkan wajahnya ke langit,  seolah melihat tempat tinggalnya kelak di surga.

Saat batu mulai dilemparkan ke tubuh Asiyah RA, oleh Allah SWT ruh perempuan itu dicabut dari jasadnya. Barulah batu besar itu kemudian menghempas tubuhnya yang sudah tidak bernyawa. Tubuhnya hancur, berlumuran darah.Berkat kesabaran dan keimanan yang selalu tertanam di dalam dirinya, Allah SWT menempatkan Asiyah RA di dalam surga-Nya

Seperti  yang telah dijanjikan Allah SWT –tidak hanya kepada Asiyah, tapi seluruh umat-Nya- dalam QS Ali Imran ayat 159 :

“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalanKu, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”

Wallahu’alam.

 

 

Jaga Kehormatanmu seperti Maryam

 

https://i.pinimg.com/

Maryam, Teladan Menjaga Kehormatan – Namanya disebut oleh Rasulullah sebagai salah satu perempuan terbaik sepanjang masa. Dan lebih dari itu, namanya juga diabadikan menjadi salah satu surat didalam Al-Qur’an semakin meenguatkan bukti bahwa dirinya memang sosok istimewa pilihan Allah SWT.

Dialah Siti Maryam. Sebuah nama yang begitu indah, pemberian sang ibu yang berarti “wanita ahli ibadah”. Sesuai dengan  firman-Nya dalam QS.Ali Imran ayat 36 ,yang artinya :

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

Wanita yang istimewa itu berasal dari keluarga Imran yang diberkahi Allah. Keluarganya dari kalangan sholeh di Nazareth sebuah tempat di utara Israel. Ayahnya bernama Ali Imram bin Yasim seorang imam di Masjidil Aqsha dan ibunya bernama Hannah binti Yaqudz. Allah mengabadikan kisah ini di dalam Al Qur’an surah Ali Imran.

Lebih spesifik lagi Allah menyebut keutamaan keluarga Imran dalam QS. Ali Imran ayat 33, yang artinya :
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (dimasanya)”.

Dalam menjalani kehidupannya, Maryam tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga penuh keberkahan itu dalam waktu yang lama. Ketika menginjak  usia lima tahun, sebagai bentuk penuanaian nadzar sang ibu, Maryam diserahkan ke haikal (rumah Allah). Peristiwa tersebut merupakan pertama kalinya sekaligus yang terakhir, seorang wanita menjadi pelayan yang berkhidmat di haikal.

Selama di haikal Maryam dirawat oleh Nabi Zakariya yang merupakan pamannya. Mariyam tumbuh menjadi gadis suci di Baitul Maqdis. Hari-harinya diisi dengan senantiasa beribadah dan berdzikir mengagungkan kekuasaan Allah. Jarang sekali ia meninggalkan tempatnya. Terkadang Zakaria mengunjunginya di mihrab. Beberapa kali Zakaria mendapati sesuatu yang mencengangkan terjadi pada Maryam.

Saat itu musim panas tetapi Nabi Zakaria menemui di tempat Maryam buah-buahan musim dingin, dan pada kesempatan yang lain ia menemui buah-buahan musim panas sedangkan saat itu musim dingin. Zakaria bertanya kepada Maryam: “Darimana datangnya rezeki ini?” Maryam menjawab: “Bahwa itu berasal dari Allah SWT. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab “. Peristiwa itu tercantum dalam kitab suci Al Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 37.

Maryam juga tidak sembarangan bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia menjauhi godaan laki-laki dan tidak pula menggoda mereka. Baik lelaki maupun perempuan sebenarnya sama saja, mereka diciptakan memiliki nafsu. Sehingga, untuk saling tertarik satu sama lain adalah hal yang sangat wajar. Namun yang berbeda adalah bagaimana laki-laki atau perempuan itu dapat menjaga diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah. Begitu kiranya yang dilakukan oleh Maryam.

Untuk membuktikan hal itu, Allah juga menguji Maryam. Suatu ketika Jibril diutus mendatangi Maryam dalam fisik laki-laki yang sempurna. Namun Maryam tetap menjaga dirinya. Seperti yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam QS. Maryam ayat 17-18 :

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا. قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

Artinya : “Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”.

Bagaimana respon Maryam? Ia tidak terkecoh sama sekali, justru memohon perlindungan kepada Allah dan meminta laki-laki tersebut menjauh. Hingga akhirnya sosok lelaki itu  mengatakan :

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam: 19).

Barulah Maryam menyadari ternyata lelaki itu adalah malaikat yang Allah utus untuk menemuinya. Ditambah perkataan Jibril membuatnya semakin terkejut dan kebingungan. Kemudian Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (QS.Maryam: 20)

Mendengar ucapan Maryam, Jibril berkata: “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS.Maryam: 21)

Maka Allah SWT menunjukkan kebesaranNya. Setelah beberpa saat lamanya, Maryam pun  mengandung dan memilih untuk kembali pulang ke Jerusalem. Tentu dengan keadaan seperti itu memunculkan fitnah dari kalangan masyarakat . Keimanan dan ketaqwaan  Maryam kembali diuji.

Mereka mencaci-maki, menuduhnya seorang pezina. Lalu berbekal  petunjuk Allah, Maryam pergi ke arah timur menuju satu tempat yang jauh. “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” (QS. Maryam:22)

Bethlahem, sebuah kota di Tepi Barat Palestina (kini), menjadi saksi bagaimana Maryam menghadapi proses kelahiran  dengan penuh kesakitan. “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. (QS.Maryam: 23)

Namun, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak mengabaikan Maryam. Dia kemudian kembali mengutus Jibril. “Maka menyerulah dia (Jibril) kepadanya dari tempat yang rendah: “Janganlah kau bersedih hati. sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di dekatmu sebuah anak sungai” (untuk diminum)”. (QS.Maryam: 24)

Dilanjutkan dengan QS.Maryam ayat  25  dan 26:

“Dan goyanglah pangkal pokok korma itu ke arahmu. niscaya pokok korma itu akan menggugurkan kepadamu korma yang masak ranum”.

“Maka makanlah dan minumlah dan senangkanlah hatimu. Maka jika engkau melihat ada seorang anak manusia, katakanlah:” Sesungguhnya aku telah bernazar di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih, maka sekali-kali tidaklah aku bercakap-cakap, sejak hari ini dengan seorang manusia pun”.

Tidak lama kemudian lahirlah, Isa putra Maryam. Sosok hamba Allah yang dianugerahi Injil dan berbagai mukjizat seperti yang biasanya diberikan Allah kepada seorang nabi. Segala karunia Allah yang luar biasa itu membuat Maryam kembali tersenyum. Namun cobaan memang tidak pernah berhenti.

Hujatan masyarakat semakin menjadi-jadi. Meski demikian tidak menyurutkan ketegaran dan iman Maryam. Allah menolongnya dengan menjadikan bayi itu bisa berbicara, menghapuskan segala hinaan yang pernah dilontarkan. Semua kisah itu terpatri dalam Al Qur’an surat Maryam.

Melihat bagaimana Maryam mampu menjadi sosok perempuan yang demikian tangguh dan beriman, Allah Ta’ala  memujinya dalam firman-Nya surat Al-Maidah ayat 75, yang artinya : “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar…”

Sedikit potongan kisah Maryam di atas semestinyaa dapat menjadi teladan bagi seluruh muslimah di dunia, terutama bagaimana menjadi sosok perempuan yang mampu menjaga kehormatannya. Seperti yang kita ketahui bahwa sperkembangan zaman saat ini nampaknya banyak menjadikan perempuan menjadi sosok yang tidak memperhatikan hal tersebut. Cenderung terjerumus dalam lubang maksiat dan jauh dari Allah. Na’udzubillahi mindzalik.