Khadijah: Cinta Pertama Rasul SAW

https://id.pinterest.com/

Khadijah: Cinta Pertama Rasul SAW – Khadijah RA. putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza, merupakan seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Mendapat julukan ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Beliau dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat sekitar 15 tahun sebelum tahun gajah.

Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia sehingga tidak mengherankan jika beliau menjadi seorang wanita yang cerdas, berpendirian teguh dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya jatuh hati kepadanya.

Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi dan dikaruniai dua orang anak, Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dipinang oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi namun setelah beberapa saat mereka akhirnya bercerai.

Semakin banyak para pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, serta mengurusi perniagaan. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya.

Beliau mendengar tentang Muhammad –saat itu belum diangkat menjadi nabi, yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah.

Allah menjadikan perdagangan  tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa puas atau usaha Muhammad Al-Amin, menambah ketakjuban terhadap kepribadian sosok pemuda tersebut. Khadijah menyadari bahwa Muhammad Al-Amin berbeda dari kebanyakan laki-laki di sekitarnya.

Akan tetapi beliau pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Kebingungan dan kegelisahan yang dialami oleh Khadijah akhirnya dapat dipecahkan dengan bantuan  Nafisah binti Munabbih. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya .

Atas ridha Allah, Nafisah membuka jalan untuk Khadijah dan Muhammad.
Berangkatlah Rasulullah SAW besama Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah, Amru bin Asad untuk melamar Khadijah. Khadijah dan Muhammad Al-Amin akhirnyapun menikah.

Seusai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada keluarga, handai taulan, dan orang-orang fakir. Diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang mendapat 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui suami tercinta.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.

Kemudian Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), beribadah kepada Allah di Gua Hira’ . Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa keberatan. Meski terkadang harus berpisah jauh, beliau senantiasa menjaga dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah.

Hingga pada suatu malam dibulan Ramadhan, ketika Muhammad al-Amin tengah  berkhalwat di gua Hira, datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah. Beliau sangat ketakutan, sekujur tubuhnya gemetar karena peristiwa yang baru saja dilaluinya. Sontak beliau berlari keluar dari gua menuju rumah menemui istrinya.

“Selimutilah aku ….selimutilah aku …” pinta Muhammad kepada sang istri sesampainya di rumah. Khadijah segera menyelimutinya dan berhasil meredakan kekhawatiran yang ada. kemudian Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa sang suami, beliau menjawab:”Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku”.

Mendengar jawaban tersebut sang istri lantas berusaha menghibur dan menenangkannya. Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan tersebut. Khadijah selanjutnya mengajak Rasulullah SAW untuk menemui pamannya yang banyak mengetahui isi Kitab Taurat dan Injil, Waraqah bin Naufal.

Khadijah menceritakan apa yang telah terjadi pada suaminya. Mendengar hal tersebut membuat Waraqah nampak gembira. Lantas ia menjelaskan bahwa kejadian yang sama  juga dialami oleh Nabi Musa, pertanda bahwa suaminya telah diangkat menjadi seorang Nabi bagi umat ini.

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali meyatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya semenjak peristiwa tersebut. Selain beriman, beliau juga senantiasa mendampingi, menolong, menguatkan, dan membantu Rasulullah SAW dalam berdakwah serta menghadapi berbagai gangguan yang akan menyertai tugas mulia tersebut.

Tidak cukup disitu, ujian besar tidak berhenti menerpa Khadijah. Mulai dari kepergian Abdullah dan al-Qasim menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, harus berpisah dengan putrinya Ruqayyah, yang harus hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan Islam dari gangguan orang-orang musyrik.

Selain itu Khadijah menghadapi sulitnya berdakwah yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, guna menghindari pertikaian dengan para kaum kafir Quraisy.  Hal tersebut tentu sangat mungkin terjadi karena Islam adalah agama Allah, Tuhan Yang Esa. Sementara keadaan saat itu kaum Quraisy tidak mengenal Tuhan yang Esa, begitu banyak berhala-berhala yang disembah oleh kaum kafir Quraisy dalam peribadatan sehari-hari.

Dakwah siriyyah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW berlangsung selama tiga tahun. Tepat setelah turun wahyu yang kedua, beliau mulai mendakwahkan risalah Islam secara terang-terangan.Tepat seperti yang diperkirakan, dakwah terang-terangan ini menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat Mekkah saat itu.

Sedikit sekali dari mereka yang percaya akan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW. Dan kebanyakan dari mereka adalah kalangan bawah. Sementara para pemuka Mekkah menentang keras risalah Rasulullah. Mereka mengupayakan berbagai cara untuk  dapat menghentikan dakwah Rasulullah dan sahabat.

Dari penyiksaan, pengusiran, pemboikotan, dan pembunuhan. Sungguh berat rintangan yang harus dihadapi Rasulullah SAW dan pengikutnya .Tidak banyak pengikut Rasulullah yang kemudian mundur, kembali menjadi kafir karena takut akan perlakuan tersebut.

islamic quotes
https://id.pinterest.com/

Namun Khadijah tidak pernah sedikitpun ragu akan kerasulan suaminya, ia hadir sebagai penenang hati dan pendorong semangat Rasulullah. Selain selalu memberikan dukungan moril, Khadijah juga rela memberikan seluruh harta kekayaannya untuk diinfakkan di jalan Allah SWT.

Ketika kaum musyrik Quraisy melakukan pemboikotan kepada bani Hasyim dan Bani Muthalib, Siti Khadijah rela meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan Rasulullah dan Sahabat di syi’ib (pemukiman) bani Muthalib. Pemboikotan berlangsung dari tahun ketujuh kenabian sampai tahun kesepuluh kenabian. Mereka tidak dijinkan melakukan jual-beli dan bermasyarakat dengan suku lain.

Khadijah RA turut menyaksikan dan merasakan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Tidak ada kata putus asa, sebab beliau melaksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta’ala :

“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan “. (Ali Imran:186).

Usia yang semakin senja, tubuh yang melemah, ditambah dengan pemboikotan kaum kafir Quraisy, tidak membuat keimanan Khadijah RA berkurang, namun malah sebaliknya. Menjelang usianya yang ke 65 tahun, atau tiga tahun sebelum hijrah Nabi SAW, Khadijah kembali kehadapan Rabbnya. Kematian teman hidup sejatinya membuat Rasulullah SAW bersedih. Kurun waktu ini disebut sebagai “tahun dukacita”.

Khadijah RA adalah seorang istri yang bijaksana, mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya, dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Maka dari itu sangat tepat apabila Rasulullah SAW menyebut istri pertamanya ini termasuk dalam satu dari empat muslimah terbaik sepanjang masa.

 

Fatimah, Putri dan Istri Ideal

Fatimah, Putri dan Istri Ideal
https://i.pinimg.com/

Fatimah, Putri dan Istri Ideal – Fatimah RA adalah buah cinta paling muda dari empat bersaudara dalam pernikahan Rasulullah SAW  dengan ibu para kaum Mukmin, Khadijah binti Khuwalid. Oleh Rasulullah SAW dianugerahi dua julukan.

Pertama yaitu ‘az-zahra’ yang memiliki arti “Yang Terang Gemilang” seperti wajahnya yang nampak berseri-seri, dan yang kedua adalah ’al-batul’, mengarah pada wataknya yang bersih, memutuskan hubungan dengan dunia untuk beribadah kepada Allah.

https://id.pinterest.com/

Masa Kecil Fatimah

Ketika itu Fatimah tengah berusia 5 tahun saat Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu dari Jibril. Fatimah benar-benar menyaksikan dan merasakan bagaimana beratnya tugas yang diemban oleh sang ayah sebagai seorang rasul. Salah satunya, dia menjadi saksi pada peristiwa yang menunjukkan kebiadaban para kafir Quraisy terhadap sang ayah. Yaitu ketika dia mengunjungi Masjidil Haram bersama Rasulullah SAW.

Saat Rasulullah SAW menunaikan sholat, sekelompok kaum kafir Quraisy berkumpul mengelilingi beliau. Kemudian salah seorang dari kelompok tersebut mengambil kotoran sisa menyembelih hewan, dan melemparkannya ke arah bahu Rasulullah SAW  ketika beliau tengah bersujud.

Melihat kejadian tersebut Fatimah tidak gentar,  sebagi seorang gadis kecil dia justru menunjukkan keberaniannya dengan memindahkan kotoran tersebut dari ayahnya dan melempar balik kotoran tersebut kepada para kaum kafir. Seorang gadis, yang bahkan belum genap menginjak sepuluh tahun, berhasil membungkam sekelompok orang-orang kejam.

 

https://www.wikihow.com/

Masa Remaja Fatimah

Fatimah masih kerap mengalami dan menyaksikan kesedihan dan penderitaan meski telah menginjak usia remaja. Pertama, kepergian saudara-saudara perempuanya karena pernikahan mereka. Yang kemudian Ruqayyah dan Ummu Kulsum ternyata justru menderita penyiksaan mental yang berat setelah keduanya menikah dengan putra dari Abu Lahab, paman sekaligus tokoh nomor satu dalam perihal melakukan perlawanan terhadap Rasulullah SAW.

Selanjutnya adalah  keluarga dan para pengikut yang baru saja memeluk Islam dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka sebab sikap kejam para kafir Quraisy yang semakin menjadi-jadi. Kaum Muslimin memilih hijrah ke Madinah demi menyelamatkan hidup mereka.

Awalnya Fatimah dan kakanya Ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi SAW  mengutus orang untuk menjemputnya, turut hijrah.Seiring berjalannya waktu, kehidupan di Madinah menjadi semakin sulit, dikarenakan kaum kafir Quraisy memberlakukan pelarangan makanan dan kontak apapun terhadap muslim.

Tidak lama setelah berbagai jenis pemboikotan yang terjadi, Fatimah menderita satu lagi kesengsaraan terbesar dalam hidupnya, yaitu dia harus menghadapi kematian sang ibu, Khadijah RA.

 

Kehidupan Rumah Tangga Fatimah

Fatimah dikenal mimiliki kepribadian yang lemah lembut dan senantiasa ingin membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Dia sangat murah hati, membantu para kaum miskin dan yang membutuhkan, seringkali dia akan memberikan makanan miliknya meskipun hal itu membuat dirinya sendiri kelaparan.

Dia hidup dalam kehidupan yang sederhana dan rendah hati, tanpa peduli satu kemewahan apapun. Kehidupan yang seperti itu terus berlanjut dalam kehidupan pernikahannya dengan Ali bin Abu Thalib RA. Tidak seperti suami dua kakak perempuannya, Ali RA adalah seorang yang miskin, sehingga mengharuskan keduanya untuk bekerja sangat keras demi bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Keadaan Ali RA dapat tergambar pada masa awal ia melamar Fatimah. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib datang kepada Rasulullah, lalu nabi Muhammad SAW bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawab Ali. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya Rasul. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” kata Ali. Kemudian Rasulullah berkata,“Berikan itu kepadanya (Fatimah) sebagai mahar”.

Lalu Ali bin Abi Thalib bergegas pulang menuju rumah dan mengambil baju besinya. Rasulullah SAW lantas menyuruh menjualnya. Baju besi tersebut dijual kepada Utsman bin Affan seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan beliau menyerahkan uang tersebut kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim saat itu bersuka cita atas perknikahan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya  dikaruniai empat orang anak. Anak pertama yang diberi nama Al-Hasan lahir setelah setahun menikah. Saat Hasan genap berusia satu tahun, lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke-4 H. Dilanjutkan pada tahun ke-5 H, Fatimah melahirkan anak perempuan bernama Zainab, dan yang terakhir benama Ummu Kultsum. Rasulullah SAW sangat dekat dengan cucu-cucunya, terutama Hasan dan Husain.

Kesulitan kehidupan rumah tangga juga tercermin melalui suatu peristiwa, ketika sang ayah berkunjung ke rumah pasangan tersebut. Pada kesempatan itu Fatimah yang merasa tidak kuat lagi menanggung beban berat kehidapan berumah tangga, menyampaikan suatu permintaan agar sang ayah bisa mengatakan kepada Ali untuk mempekerjakan seorang pembantu di rumah mereka.

Tidak serta merta mengiyakan, Rasul SAW kemudian memberikan petuah-petuah yang mampu menghilangkan rasa sedih sang anak, dan menjadikannya lebih bersabar dalam menjalani mahligai rumah tangga. Kehidupan pernikahan kedua pasangan ini menjadi semakin barakah. Semua berkat kesalehan dan kebajikan yang dimiliki oleh pasangan tersebut. Dan yang terpenting diatas segalanya adalah berkat doa dari Rasulullah dan keberkahan dari Allah SWT.

Meskipun disibukkan dengan kehidupan keluarga, Fatimah senantiasa mendedikasikan dirinya kepada kaum muslim di Madinah. Bersama dengan perempuan lainnya, dia memegang peran kunci dalam Perang Uhud dan Perang Parit, seperti merawat luka dan menyiapkan makanan.

 

Kasih Sayang Rasulullah SAW terhadap Fatimah

Rasullah sangat menyayangi Fatimah, setiap Rasulullah pulang dari bepergian, beliau akan  terlebih dahulu menemui Fatimah sebelum menemui istri-istrinya. Selain itu Rasulullah juga pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada sang putri tatkala diatas mimbar.

“Sungguh Fathima bagian dariku, Siapa yang membuatnya marah bearti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fatimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Setelah Rasulullah SAW  menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fatimah, beliau menemuinya dengan ramah seraya berkata,” Selamat datang wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan “bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hafalan kepada ku setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun dua kali” lalu Beliau melanjutkan “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku”.

Mendengar hal tersebut membuat Fatimah menangis dengan keras. Tidak berselang lama, saat Fatimah masih tersedu-sedu dalam tangis, Rasulullah kembali  membisikkan “Wahai Fatimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita-wanita penghuni surga? dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Seketika Fatimah kembali tersenyum.

Tatkala enam bulan sejak wafatnya Rasulullah SAW, Fatimah jatuh sakit. Namun ia tidak bersedih, karena kabar gembira yang pernah disampaikan ayahnya saat itu. Tidak lama kemudian Fatimah berpulang ke sisi Allah SWT. Tepatnya pada malam Selasa, 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

Jika kita mengamati kehidupan singkatnya, bisa melihat bahwa dia adalah perempuan yang menginspirasi, seseorang yang memiliki keteguhan hati begitu kuat, kesetiaan, kerendahan hati, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sungguh perempuan yang kuat dan shalihah, sosok teladan yang sesungguhnya, baik bagi muslim maupun muslimah.

 

Kesempurnaan Akhlak Rasul SAW

Kesempurnaan Akhlak Rasul SAW
https://id.pinterest.com

Kesempurnaan Akhlak Rasul SAW – Akhlak berkaitan dengan tingkah laku atau perbuatan seseorang, yang dapat disebabkan oleh faktor  alamiah –sudah ada sejak lahir, atau biasa disebut dengan watak dan karena kebiasaan atau latihan. Akhlak dibedakan menjadi dua macam, yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan bagaimana akhlak yang dimiliki oleh seorang hamba. Sesuai yang terdapat dalam surat AL Hujurat ayat 13 “…. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…”

Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai Way of Life muslim telah menyebutkan mengenai kedudukan akhlak. Dengan demikian sudah jelas bahwa kita sebagai muslim harus senantiasa berlomba-lomba untuk berakhlakul karimah.

Konsep akhlak yang diatur dalam ajaran agama Islam mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan manusia. Sehingga tidak terbatas hanya pada bagaimana seorang hamba berperilaku terhadap Tuhannya –Allah  SWT, melainkan juga kepada manusia dengan sesamanya. Seperti firman Allah SWT dalam surat An-Nisaa ayat 36 yang artinya :

”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Bukan menjadi hal sulit sebenarnya untuk bisa menjadi sosok muslim yang senantisa berperilaku demikian, sebab Allah telah menurunkan sosok teladan terbaik sepanjang masa bagi kita semua yaitu Nabi Muhammad Saw. hal tersebut dijelaskan sendiri oleh Nabi dalam satu riwayat Hadis Sahih: “Sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Bukhari).

Meneladani Rasulullah SAW. dapat dimaknai dengan berperilaku seperti apa yang dilakukan oleh beliau semasa hidupnya. Sehingga mempelajari hadits adalah kuncinya, karena yang dimaksud Hadits adalah segala ucapan dan perilaku Rasulullah SAW.

Berikut merupakan beberapa hadits yang menjelaskan mengenai masing-masing akhlak yang harus dimiliki oleh seorang muslim :

  • Akhlak kepada Allah SWT

Muslim berakhlakul karimah kepada Allah SWT. , mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Yaitu dengan  mereka yang senantiasa melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Abu Hurairah Abdur Rahman bin Sahr ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Apa yang kularang untuk kalian maka tinggalkanlah dan apa yang kuperintahkan kepada kalian, maka laksanakanlah sesuai dengan kemampuan kalian sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan terhadap para Nabi mereka.
(HR Bukhari Muslim)

Bentuk perwujudan seorang muslim terhadap apa yang telah diperintahkan Allah SWT. misalnya adalah dengan melaksanakan sholat fardhu dan berpuasa Ramadhan, seperti pada hadits berikut :

Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari ra. menerangkan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw, Ia berkata : Bagaimana pendapatmu, jika aku telah mengerjakan shalat maktubah (shalat fardhu lima waktu), berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya dengan suatu apa pun. Apakah aku bisa masuk surga?  Beliau menjawab : YA. (HR. Muslim)

Setelah mengetahui hadits diatas, masih adakah yang enggan menjalankan perintah Allah SWT.? Terlebih lagi jika kemudian kita mampu untuk senantiasa menjaga amalan tersebut, maka semakin bertambahlah iman kita dan sempurnalah Islam dalam diri kita. InsyaAllah.

  • Akhlak terhadap sesama

O Allah, bless our master Muhammad ï·º with the very best of Your blessings. #whoismuhammad #muhammad #prophet #allah #islam #beauty #beloved #botb #beauty_of_the_beloved #beautyofthebeloved #beauty_beloved_

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup tanpa keberadaan manusia yang lain. Manusia antara satu dengan yang lain pastilah saling memiliki ketergantungan. Sehingga perlu dibangun interaksi yang baik, demi terciptanya suatu tatanan yang baik pula dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagaimana Rasulullah SAW. yang tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, melainkan juga karena perangainya yang baik dengan orang-orang disekitarnya. Misalnya saja sebagai upaya menciptakan berkehidupan rumah tangga yang haromonis, beliau menuturkan pentingnya diantara suami-istri untuk saling memenuhi masing-masing hak dan kewajibannya. Seperti dalam hadits berikut ini :

Akhlak terhadap istri

Dari Hakim bin Mu’awiyah dari bapaknya bahwa bapaknya berkata : wahai Rasulullah ! apakah hak seorang istri yang harus dipenuhi oleh suaminya ? maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : kamu memberi makan kepadanya jika kamu makan, dan kamu memberinya pakaian jika kamu berpakaian dan engakau tidak memukul mukanya, tidak menjelek-jelekkannya ( tidak berkata : semoga Allah memburukkan wajahmu ) dan tidak meninggalkannya kecuali dalam rumah. (HR. Abu Daud)

Akhlak terhadap suami

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya : wanita yang bagaimanakah yang paling baik ? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : yang menyenangkannya (suaminya) jika ia memandangnya, taat kepadanya jika dia memerintahkan, dan dia tidak menyelisihinya dalam dirinya dan hartanya dengan sesuatu yang dibencinya. HR. Nasa’i.

Akhlak terhadap tetangga, tamu, dan orang lain

Kemudian mengenai bergaul orang disekitar kita juga tidak ketinggalan. Salah satunya sepeti yang terdapat dalam HR Bukhari dan Muslim bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tetangganya, dan  memuliakan tamunya.

Selain itu dalam suatu hadis Rasulullah SAW menjelaskan, ”Janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling mendengki, dan janganlah kamu saling menjatuhkan. Dan, hendaklah kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara dan tidak boleh seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR Anas).

Yang tidak kalah penting dan lebih spesifik lagi adalah mengetahui apa yang menjadi kewajiban atas muslim yang lain seperti dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah SAW : “Hak orang muslim dengan muslim lainnya ada lima hal, yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mengabulkan undangan dan mendoakan yang bersin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Setiap akhlak baik yang coba kita lakukan kepada orang-orang disekitar kita, sebenarnya adalah sebuah manifestasi bagi diri kita sendiri. Karena sekecil apapun amal shaleh yang kita lakukan, pasti Allah mengatahuinya dan diberikan pula ganjaran oleh-Nya. Seperti yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW pernah bersabda :

Barang siapa yang membebaskan orang mukmin dari kesempitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari kesempitan di hari Kiamat.

Barang siapa yang memberi kemudahan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.

Barang siapa menutupi aib orang muslim maka Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.

Barang siapa yang meniti jalan untuk memperoleh ilmu, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya jalan menuju surga. Tidak lah suatu kaum berkumpul di rumah Allah (masjid), membaca kitab Allah dan mempelajarinya, niscaya turun kepada mereka ketentraman, rahmat meliputi mereka, para malaikat berkerumun di sekelilingnya dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.

Barang siapa amalnya selalu terlambat (kurang), maka nasabnya tidak akan dapat menyempurnakannya.(HR. Muslim). Sungguh janji Allah SWT. nyata adanya, maka marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk bisa meneladani sosok Rasulullah SAW. dalam keseharian kita. Wallahu a’lam bis-shawab.