Biografi Aisyah binti Abu Bakar; Benarkah Aisyah Ra Pencemburu?

kartun muslimah Aisyah binti Abu Bakar
http://www.imgrum.org

KARTUN MUSLIMAH — Sahabat kartun muslimah, postingan kali ini saya ingin mengajak Anda untuk lebih mengenal Siti Aisyah. Wanita ini adalah wanita tercerdas kesayangan Rasullullah SAW. pastinya diantara kalian sudah tidak asing mendengar nama Aisyah. Memang tidak heran, nmanya menggema di seluruh penjuru dunia.

Maka dari itu, tidak ada salahnya jika kita kembali membaca lembaran-lembaran kisah hidupnya yang luar biasa. Dia adalah wanita yang paling dicintai Rasullullah SAW. setelah ayahnya. Dia adalah wanita suci dan disucikan, karena Allah telah mengumumkan kesuciannya dari tujuh lapis langit.

Dia adalah wanita yang bertakwa, bersih, ahli wara’ dan ahli zuhud. Dia adalah Aisyah binti Abu Bakar, semoga Allah meridhainya.

Biografi Aisyah binti Abu Bakar Terlahir dari Keluarga Suci nan Berkah

Aisyah adalah putera dari Abu Bakar ash-Shiddiq, manusia yang paling utama setelah para nabi dan rasul. Dia adalah orang kedua dari dua orang yang berada di gua dan orang yang paling dicintai oleh Rasullullah SAW.

Abu Sa’id Al-Khudri ra. meriwayatkan bahwa Rasullullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling menjadi anugerah bagiku, baik dalam persahabatan maupun hartanya adalah Abu Bakar. Sekiranya aku boleh menjadikan seseorang sebagai khalil, selain Tuhanku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil-ku. Akan tetapi, aku hanya bisa menjadikannya sebagai saudara se-Islam dan saling mencintai karenanya. Semua pintu rumah yang menghadap langsung ke masjid harus ditutup, kecuali pintu rumah Abu Bakar.” (Muttafaq ‘alaih)                   

Ibunya adalah seorang sahabat wanita terkemuka, yakni Ummu Ruman binti ‘Amir. Dia adalah sosok sahabat yang banyak menorehkan jasanya kepada Islam.

Saudara perempuan kandungnya adalah Asma’ binti Abu Bakar yang sangat terkenal dengan gelar Dzaatun Nithaaqain (pemilik dua selendang).

Suami dari saudara perempuannya tersebut dikenal dengan gelar Hawaari Rasullullah SAW. yang artinya pembela setia Rasullullah, yakni tak lain adalah Zubair bin Awwam. Zubair sendiri adalah sepupu Rasullullah SAW. yang termasuk kedalam sepuluh orang yang dijamin masuk surga, serta orang pertama yang menghunus pedang di zaman Allah.

Kakek Aisyah dari pihak ayah adalah Abu Quhafah yang turut masuk Islam dan menjadi sahabat Rasullullah SAW.

Neneknya dari pihak ayah adalah Ummul Khair Salma binti Shakhr yang turut pula masuk Islam dan menjadi sahabat wanita Rasulullah.

Tiga orang bibinya dari pihak ayah tergolong sahabat wanita Rasulallah, yaitu Ummu ‘Amir, Quraibah, dan Ummu Farwah. Semuanya merupakan putri Abu Quhafah.

Dan saudara kandung lelakinya adalah Abdurrahman bin Abu Bakar, seorang lelaki yang pemberani dan ahli memanah yang tersohor.

Itulah biografi Aisyah beserta silsilah keluarganya yang penuh berkah. Aisyah yang terlahir dari keluarga suci dan dalam kondisi islami, jika diibaratkan ia bagaikan keluar dari akarnya dan hidup di antara dahan-dahannya, sehingga tumbuh mekar dan menjadi bunga yang sangat indah di tengah-tengah manusia.

Pernikahan Berkah yang Melukiskan Sejarah

kartun muslimah Biografi Aisyah binti Abu Bakar; Istri Kesayangan Rasulullah Saw
https://drawinglics.com

Aisyah dipinang oleh Rasullulah pada usia 6 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun, dimana saat itu Aisyah menjadi istri ketiga Nabi Muhammad SAW setelah khadijah dan Saudah binti Zam’ah. Aisyah pula merupakan satu-satunya istri yang dinikahi saat masih gadis.

“Rasullullah menikahi (akad) saat aku berusia 6 tahun. Saat tiba di Madinah, kami tinggal di perkampungan bani Al-Harist bin Khazraj. Aku sempat sakit demam hingga rambutku rusak. Ketika rambutku mulai tumbuh kembali, ibuku, Ummu Ruman menemuiku. Saat itu, aku sedang bermain dengan anak-anak sebayaku di atas kayu. Ibuku memanggil dan aku langsung menemuinya. Aku tidak tahu maksudnya memanggilku. Ibu langsung mengepit tanganku dan membawaku pulang ke rumah. Sampai di depan pintu rumah, napasku masih tersengal-sengal. Aku dibiarkan beristirahat sejenak hingga napasku normal kembali. Kemudian, ibu mengambil air untuk membersihkan muka dan kepalaku lalu membawaku masuk ke rumah. Ternyata, di dalam rumah telah berkumpul sejumlah wanita Anshar yang segera menyambutku, ‘Semoga kebaikan dan keberkahan menyertaimu.’ Ibu menyerahkanku kepada mereka untuk dirias.  Sampai saat itu ku belum sadar apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga ketika tiba waktu dhuha aku dikejutkan dengan kedatangan Rasullullah SAW.  Melihat kedatangan beliau, wanita-wanita Anshar pergi dan membiarkan aku bersama beliau. Saat iku aku berusia 9 tahun.” ((Muttafaq ‘alaih)

Nabi SAW menikah lagi setelah Khadijah wafat. setelah selang beberapa lama Nabi menikahi seorang janda bernama Saudah binti Zam’ah. Tak lama kemudian datanglah wahyu dari Malaikat Jibril mengenai Aisyah.

Wahyu tersebut merupakan kemuliaan terbesar yang pernah terjadi pada seorang wanita di muka bumi ini. Dari wahyu tersebut, Nabi SAW membuat keputusan untuk menikahi Aisyah r.a.

Perintah menikahi Aisyah sendiri berdasarkan wahyu atau petunjuk yang datang dari langit. Rasullullah pernah melihatnya dalam mimpi selama tiga malam. Dalam mimpinya itu, Jibril datang dengan membawa gambar Aisyah seraya berkata, “Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.”

Aisyah ra. menuturkan bahwa Rasullullah saw. Bersabda, “Aku bermimpi selama tiga malam. Malaikat datang kepadaku dengan membawa gambarmu dalam sepotong kain sutra seraya berkata, ‘Inilah istrimu.”Lalu, aku buka kain penutup wajahmu, ternyata itu adalah gambarmu. Saat itu aku bergumam, jika ini kehendak Allah, maka pasti terlaksana.” (Muttafaq ‘alaih)    

Merupakan satu kemuliaan tersendiri bagi bunda kaum muslimin, Aisyah menjadi istri Nabi SAW berdasarkan perintah Allah SWT. Apalagi beliau dijanjikan menjadi istri dunia akhirat Rasullullah SAW.

Walaupun saat menikah, usia Aisyah masih sangat kecil, namun ia sudah menanti masa paling indah saat masuk rumah Rasullullah SAW. sebagai istri manusia paling agung sepanjang zaman dan ibu bagi seluruh orang yang beriman sepanjang masa.

Kisah pernikahan berkah ini termasuk salah satu sejarah dalam peradaban Islam. Apalagi Aisyah banyak membantu Nabi SAW dalam menegakkan Islam di muka bumi.

Keistimewaan dan Kedudukan Aisyah r.a

Wanita Tercerdas yang Haus dan Luas Ilmu– Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’laam An-Nubalaa’ berkata, “Aisyah putri pemimpin terbesar orang-orang yang Shiddiq dan khalifah Rasullullah saw. Al-Qurasyiyyah, At-Taimiyyah, An-Nabawiyyah, ibunda orang-orang yang beriman dan istri Nabi saw. Dia adalah wanita yang paling luas ilmunya diantara seluruh wanita umat ini.”

Selama sembilan tahun lamanya hidup dengan Rasullullah SAW. Aisyah dikenal sebagai pribadi yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Semangat belajar dalam menuntut ilmu dari Nabi SAW, membuat Aisyah banyak menguasai berbagai bidang ilmu.

Diantara ilmu yang dikuasai oleh Aisyah yaitu, ilmu al-qur’an, hadist, fiqih, bahasa arab dan syair. Keilmuan Aisyah bahkan tidak diragukan lagi karena beliau adalah orang terdekat Rasulullah yang sering mengikuti pribadi Rasulullah. Banyak wahyu yang turun dan  disaksikan Aisyah.

Kecerdasan akan keilmuan yang dimiliki Aisyah bahkan tidak ada yang menandingi. Bahkan beliau dijadikan tempat bertanya para kaum wanita dan para sahabat tentang permasalahan hukum agama maupun permasalahan lain.

Periwayat Hadist yang Ulung – Aisyah terkenal sebagai satu-satunya perempuan yang banyak menghapalkan hadist-hadist Rasulullah. Beliau mendapat gelar Al-Mukatsirin (orang yang paling banyak meriwayatkan hadist).

Terdapat 2210 hadist yang pernah diriwayatkan oleh Aisyah r.a. diantaranya terdapat 297 hadist dalam kitab shahihain dan terdapat 174 hadist yang mencapai derajat muttafaq ‘alaih. Maka dari itu, wajar bila para ahli hadist menempatkan Aisyah pada posisi kelima penghafal hadist setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.

Aisyah r.a, Idola Muslimah Masa Kini

Tepat pada tanggal 17 Ramadhan setelah shalat witir, pada tahun 58 Hijriyah, Ummul mukinin Aisyah ra. menghembuskan napas terakhir dan kembali keharibaan Tuhannya dengan penuh keridhaan.

Jasad Aisyah dikuburkan di Pekuburan Baqi’. Sebelum itu, Abu Hurairah ra. mengimami shalat jenazah. Banyak sekali kaum muslimin yang hadir dalam shalat tersebut.

Untuk menutup kisah Aisyah yang penuh kecerdasan, kecantikan, keagungan dan keistimewaan ini, alangkah baiknya jika sosok Aisyah dijadikan idola setiap muslimah di dunia.

Aisyah, sangat luar biasa. Bahkan, tidak ada keraguan mengenai wanita suci ini. Maka dari itu, sudah sepatutnya jika muslimah saat ini menjadikannya sebagai panutan dan motivator dalam kehidupan sehari-hari.

 

Referensi: Buku 35 Sirah Shahabiyah jilid 1 karya Mahmud Al-Mishri

 

Merdeka Itu…

 

renungan harian – blogger
KARTUN MUSLIMAH – Salam sahabat muslimah, dah mendekati 17 agustus nih, pasti jalanan udah rame dengan umbul-umbul merah putih ya.
 
Halaman rumah mendadak punya tiang bendera, yaa walaupun Cuma dari bambu atau kayu seadanya. Semua semangat memasang bendera kebanggaan kita sang merah putih di rumah dan berbagai tempat.
 
Yang jelas semua warga Indonesia bersemangat dan berbahagia menyambut peringatan hari kemerdekaan negara kita yang tercinta ini.
 
Moment peringatan hari kemerdekaan menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia bahwa dahulu kita adalah bangsa yang terjajah, dan saat ini kita sudah merdeka, bebas menentukan sendiri nasib bangsa kita.
 
Ngomong-ngomong soal merdeka, soal kebebasan, kita memang sudah bebas dari jajahan militer. Tapi secara individu sebenarnya apa sih makna kebebasan bagi sahabat muslimah?
 
Apa kita benar-benar sudah merdeka? Saya punya sedikit curahan hati nih tentang makna kemerdekaan..
Merdeka itu…
Saat bebas makan apa aja (yang pasti halal n toyyib ya..)  tanpa khawatir jadi gemuk dan dikomen temen “eh kok gemukan sekarang?”
[trus kalau aku gemukan, massallah…?]
 
Merdeka itu…
Saat sate kambing udah tersaji dimeja makan, bisa langsung baca doa dan melahap nikmatnya tu daging kambing, tanpa harus ribet selfie dulu sama si kambing yang udah ditusuk-tusuk itu, lalu upload ke instagram dengan caption “lunch siang ini menunya sate kambing :D”
[helloo sista gak ada yang tanya jugaa…
 
Merdeka itu…
Saat hati gak risau karna follower ig gak nambah-nambah, atau baper berkepanjangan gegara updetan sejam yang lalu belum ada yang nge-like..
 
[padahal poto yang diupload dah dipilih gaya yang paling cute, yang moto malah sampe jungkir balik demi ngedapetin angel tebaik..] hee
 
Merdeka itu…
Saat hati tetap tentram memakai gamis yang ada, sementara teman kos-an kedatengan paket dari onlineshop isinya gamis cantik keluaran terbaru.
 
Merdeka itu…
Saat bisa bebas baca Qur’an kapan aja dimana aja tanpa hawatir di komen “kamu sok alim deh”
 
Atau saat bebas memilih gak salaman sama yang bukan muhrim tanpa takut dianggap “sok suci”
 
Merdeka itu…
Saat bisa menlenggang bahagia saat datang ke walimahan tanpa hawatir digelari jomblo sejati atau gak laku karena datang tanpa gebetan or pacar
 
Atau saat bisa dengan tegas mengatakan “maaf saya muslim, saya gak pacaran” saat ada cowok keren yang nembak ngajak jadian.
Merdeka itu…
Saat kita tidak diatur oleh dunia, tapi kitalah yang mengatur dunia
 
Merdeka itu…
Saat kita tak latah terbawa arus zaman, tapi kitalah yang memutuskan akan mengambil sikap apa dalam setiap perubahan zaman
 
Merdeka itu…
Saat kita bisa menjadi pioner kebaikan, bukan follower keburukan
 
Merdeka itu…
Saat kita bisa dengan lantang mengatakan

 

“AKU MUSLIM, AKU CINTA NKRI, AKU INDONESIA”.
 
So, apa arti kemerdekaan buat sahabat muslimah?

Hijabin Hati Dulu

KARTUN MUSLIMAH – Setiap hari bertemu, melihat bahkan berinteraksi dengan perempuan berhijab. Lama-kelamaan muncul rasa teduh saat melihat mereka yang terlihat anggun mengenakan hijab. Lalu dengan halus terbersitlah keinginan untuk berhijab seperti mereka.

Iseng-iseng waktu lagi ngumpul sama teman coba nyeletuk,
“eh kira-kira aku cocok gak ya kalau pakai hijab?”

Lalu dengan pasang wajah ekspresi tak percaya spontan ada yang langsung menjawab,
“What? Gak salah denger nih? Mimpi apa tadi malam?”

Lalu teman yang lain dengan nada merendah dan penuh pengertian nambahin,
“Aduuh gak usah neko-neko deh, yang masih nakal kayak kita gini lebih baik belajar hijabin hati dulu aja”.

“Diluar sana banyak lho orang yang udah pakai hijab tapi prilakunya gak sesuai dengan pakaiannya”. “Kan malah merusak citra Islam tuh”

Sahabat muslimah, mungkin di antara kita atau teman kita pernah mengalami kondisi seperti cerita di atas. Atau justru kita sendiri yang berpikir demikian,

“daripada pakai hijab tapi prilakunya gak Islami, lebih baik gak pakai hijab sekalian, nanti kalau akhlaknya udah Islami baru menutup aurat dengan sempurna”.
Ada lagi yang ngasi ide brilian

“kalau mau berhijab nanti aja kalau sudah punya suami, atau kalau sudah naik haji, atau kalau sudah tua nanti”.
“Kalau pakai hijab sekarang takutnya kamu gak istiqomah lho, malah buka pasang”.

Subhanallah, sekilas argument diatas kedengarannya seperti nasehat yang bijak ya. Karena hijab adalah identitas wanita muslimah, maka seorang muslimah harus berpilaku baik sesuai tuntunan Islam. Jika tidak maka hijab kita bisa menjadi jalan buruknya citra Islam.

Tapi apakah benar kita lebih utama memperbaiki prilaku dulu baru berhijab? Atau bahasa ngetrennya hijabin hati dulu baru hijabin fisik. Coba yuk kita bahas sedikit,
Menutup aurat kewajiban wanita soleha atau kewajiban setiap perempuan yang beriman?

Untuk tau jawabannya yuk sama-sama kita intip dalil tentang perintah menutup aurat di Qur’an surat An-Nur:31.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, ………”

Nah lhooo, jelas banget kan ayat diatas ditujukan kepada para perempuan yang beriman. Jadi kewajiban menutup aurat ditujukan kepada kita semua yang mengaku beriman pada Allah. Tanpa syarat harus soleha dulu, atau sudah haji dulu, atau sudah menikah dulu, atau sudah tua mendekati liang kubur dulu 😀
So, selagi masih mengaku muslim, wajib berhijab.

Kalau menunggu akhlaknya sempurna dulu, kapan berhijabnya?

Sahabat muslimah, memang benar bahwa sebagai seorang muslim/muslimah kita harus berakhlak baik sesuai yang dituntunkan dalam agama kita.

Bahkan Rasul kita menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah akhlak. Bukti keislaman seseorang adalah baiknya akhlaknya pada Allah, Rasul, sesama manusia dan makhluk Allah lainnya.

Rasulullah juga menegaskan dengan sabdanya:
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”.

Namun apakah benar jika kita belum mampu memperbaiki akhlak maka tak berguna hijab yang kita pakai? Belum tentu.

Sekarang coba kita hayati dengan cermat. Sholat adalah salah satu kewajiban setiap umat Islam. Dan sholat yang diterima adalah sholat yang diniatkan ikhlas hanya karena Allah dan dilaksanakan dengan khusyu’.

Lalu saat kita belum bisa khusyu’ dalam solat dan terkadang niat sholat kita pun belum 100% karena Allah, apakah kita boleh meninggalkan sholat dengan alasan,

“saya mau meluruskan niat dan belajar khusyu’ dulu baru nanti solat, dari pada sekarang sholat tapi tak diterima Allah”. Astaghfirullaah.. Terlalu..

Nah begitu juga dengan berhijab. Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sedangkan akhlak adalah sesuatu yang memerlukan proses yang panjang. Sebagaimana khusyu’ sholatpun butuh latihan. Lalu kalau menunggu akhlaknya sempurna dulu, kapan berhijabnya?

Mulai berhijab saat ini juga, akhlak baikpun InsyaAllah mengikuti

Maka yang perlu kita lakukan adalah melaksanakan kewajiban kita untuk menutup aurat. Lalu sambil pelan-pelan memperbaiki diri dan hati. Saat sedang menatap wajah anggun nan berhijab di depan cermin jangan lupa ucapkan doa:

“Allahumma kamaa ahsanta khalqi fahassin khuluki”  ya Allah sebagaimana Engkau telah memperbagus wajahku maka baguskanlah akhlakku.

Buat yang sudah berhijab, keep istiqomah, terus semangat perbaiki kualitas diri, iman dan hati.